About

Aspal Buton Solusi Kebutuhan Aspal Indonesia

Penggunaan Aspal Indonesia
Perkembangan penggunaan aspal di Indonesia pada tahun 2016 menurut data Direktorat Jenderal Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat kebutuhan aspal nasional mencapai 1,640 juta ton dan diperkirakan akan terus bertambah sesuai perkembangan panjang jaringan jalan; nasional, provinsi, kabupaten dan kota, disisi lain produksi aspal dalam negeri yang dihasilkan Pertamina dan mitranya hanya sekitar 753.000 ton baru mencukupi sekitar 46% dari kebutuhan nasional, kekurangannya 54% atau sekitar 887.000 ton diimpor dari negara lain dengan harga yang berfluktuasi mengikuti harga minyak dunia.
Kekurangan atas kebutuhan aspal seharusnya dapat dipenuhi oleh aspal alam yang di Pulau Buton Provinsi Sulawesi Tenggara. Diperkirakan memiliki cadangan (deposit) aspal alam sekitar 650 juta ton berdasarkan informasi dari Dinas ESDM Sulawesi Tenggara (Natisr, M.: 2015). Sebaran potensi aspal alam di Pulau Buton seperti diperlihatkan pada Gambar di bawa ini.
Aspal alam yang ada di Pulau Buton Provinsi Sulawesi Tenggara yang dikenal secara umum dengan nama Asbuton, berdasarkan dari sumber depositnya dikelompokkan ke dalam 2 kelompok besar yaitu
Asbuton yang berasal dari Lawele termasuk jenis Aspal Danau ((Lake Asphalt) dengan sifat fisik penetrasi tinggi, sedangkan Asbuton yang berasal dari Kabungka termasuk jenis Aspal Batu (Rock Asphalat) dengan sifat fisik penetrasi rendah. Aspal alam di Pulau Buton tersebut sudah dieksplorasi sejak tahun 1924 dan dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi perkerasan jalan pada tahun 1926 masa pemerintahan Belanda.
Pada tahun 1988 Direktorat Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum menunjuk Alberta Research Council sebagai konsultan untuk meneliti dan mengkaji Asbuton, untuk dijadikan bahan campuran perkerasan jalan, dari hasil kajiannya menyimpulkan bahwa untuk mengembangkan produk Asbuton yang lebih efektif yaitu melalui teknologi ekstraksi penuh dari Asbuton, dan yang mungkin dapat diekstraksi adalah jenis Asbuton dari Lawele yang mempunyai kandungan hydrocarbon atau bitumen di atas 25% (Alberta Research Council, Ass.:1989).

Asbuton konensional melalui proses pecahan dengan ukuran butir maksimum 12,7 mm dan dikembangkan melalui berbagai cara pengolahan yang menghasilkan tipe-tipe Asbuton butir yaitu; mulai dari Asbuton Konvensional, Asbuton Mikro, dan Mikro Plus, Teknoburas, Superlasbutak, Butonite Mastic Asphalt (BMA), Buton Granular Asphalt (BGA), Buton Rock Asphalt (BRA) dan Lawele Granular Asphalt (LGA).

Pada tahun 1990-an Puslitbang Jalan Direktorat Jendaral Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum, terus melakukan upaya-upaya memperbaiki dan mengembangkan produk-produk Asbuton, melalui uji coba laboratorium dan uji gelar di lapangan, bekerja sama dengan mitra kerja dari Dinas Pekerjaan Umum Provinsi dan beberapa dari swasta atau vendor Asbuton, dengan membuat produk-produk baru berupa Asbuton semi ekstraksi atau RETONA BLEND (Refinery Buton Asphalt Blend).

Produk terakhir adalah Asbuton hasil ekstraksi penuh yang menghasilkan aspal atau Bitumen Asbuton Murni (BAM) seperti aspal biasa yang umum kita temukan di lapangan. Bitumen Asbuton Murni (BAM) hasil ekstraksi ini bisa dicampur dengan aspal minyak atau bahan aditif lainnya untuk meningkatkan kualitas sifat-sifat fisik dan mekanistiknya serta untuk kopetitif harga pasar Sangat disayangkan sampai sekarang atau kurang lebih 32 tahun telah dilakukan peneliti-peneliti baik dari perguruan tinggi atau akademisi maupun badan-badan penelitian dan praktisi yang sudah menghasilkan temua-temuanya, namun belum bisa dimanfaatkan secara optimal, karena dianggap kurang berkualitas dan belum efisien dalam penerapannya dilapangan.

Dalam upaya mengoptimalkan pemanfaatan jensi-jenis Asbuton tersebut sebagai bahan campuran beraspal untuk perkerasan jalan lentur telah dilakukan beberapa kali evaluasi melalui berbagai penelitian di Laboratorium maupun uji gelar. Penggunaan Buton Granular Asphalt (BGA) pada campuran beraspal memiliki dampak signifikan terhadap peningkatan kekakuan campuran, ketahanan deformasi permanen, dan modulus kekakuan campuran aspal tidak mudah berubah terhadap suhu (Affandi: 2010). Pengiplementasian juga telah diterapkan di segmensegmen jalan nasional dan jalan daerah dengan menggunakan Asbuton baik untuk campuran dingin maupun untuk campuran hangat atau panas yang dilaksanakan oleh Pusjatan bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum dan beberapa vendor Asbuton. Panjang percobaan penghamparan yang dilakukan berkisar antara 100 m – 200 m.

Beberapa hasil uji coba penghamparan lapis perkerasan campuran beraspal panas dengan Asbuton yang berhasil digunakan baik di Indonesia maupun di luar negeri yaitu pengggunaan Asbuton butir tipe Buton Rock Asphalt (BRA) sebagai bitumen modifier atau aditif campuran beraspal panas, dari hasil uji gelar yang dilakukan di China diketaui dapat meningkatkan kualitas lapis perkerasan jalan lentur, pemanfaatan Asbuton tipe Buton Rock Asphalt (BRA) ini dikenal dan penomenal di China. Upaya pengenalan melaui uji gelar dan uji Laboratorium yang telah dilaksanakan dan salah satu aspal modifier yang terpercaya dan telah dipakai di jembatan terpanjang ke-9 di dunia. Penghamparan campuran beraspal menggunakan Asbuton butir tipe Buton Rock Asphalt (BRA) Di proyek jembatan Jin Tang di Zhejian panjang 31 Km dengan panjang bentang diatas laut sepanjang 18 Km, selesai dibanguna tahun 2011. Jenis Buton Rock Asphalt (BRA) juga telah dipakai dalam proyek menuju Hongqiao Trasport di Shanghai China membuktikan bahwa aspal Buton yang diolah dan digunakan sesuai fungsinya dapat meningkatkan durablitas lapis perkerasan (Buton Asphalt Indonesia 2012).

Penggunaan bitumen Asbuton hasil ekstraksi jenis Bitumen Natural Asbuton Blend (BNA Blend (R)) campuran beraspal panas dari hasil uji coba penghamparan yang dilakukan di Tol Semarang (Agustus 2011) seperti diperlihatkan pada Gambar berikut. (2) uji coba penghamparan lapis perkerasan campuran beraspal panas dengan Asbuton BNA Blend (R) di Bandara Landas Pacu Cakrabhuwana Cirebon Mei 2012. Produk Asbuton Premix atau Cold Paving Hot Mix Asbuton (CPHMA) Asbuton campuran panas hampir dingin (Cold Paving Hot Mix Asbuton) merupakan campuran beraspal yang terdiri dari agregat bergradasi dan Asbuton serta bahan peremaja. Dirancang dan dicampur panas di unit produksi atau pabrikasi kemudian didistribusikan dalam bentuk kemasan, dihampar dan dipadatkan secara dingin sesuai temperature udara.
Hasil pengujian dan kajian di laboratorium serta uji gelar di lapangan, Pusjatan telah mengkarakterisasi mutu CPHMA yang kemudian dituangkan dalam spesifikasi dan pedoman serta telah divalidasi dengan penilaian kinerja melalui pemantauan lapangan CPHMA di Kendari, Buton dan Wakatobi. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa kerusakan yang terjadi pada perkerasan jalan CPHMA relatif kecil yaitu kerusakan pada perkerasan CPHMA dengan umur 3 tahun total kerusakan sekitar 15% sedangkan yang dengan umur 4 tahun total kerusakan sekitar 20%. (Madi Hermadi, Willy Pravanto, Yohanes Ronny: 2015). Produk Asbuton Premix atau Cold Paving Hot Mix Asbuton (CPHMA) Sangat cocok untuk pekerjaan pemeliharaan berupa pekerjaan penambalan jalan yang berlobang.

Hasil uji coba laboratoriun dan uji gelar yang telah diaplikasikan pada ruar-ruas jalan membuktikan bahwa kualitas atau mutu Asbuton cukup bagus untuk dikembangkan untuk keperluan bahan aspal nasional untuk menunjang program pembangunan dan pemeliharaan jalan di Indonesia.
Untuk mengefektifkan pemanfaatan Asbuton agar bisa lebih optimal maka perlu dilakukan penataan ulang pengaturan penggunaan jenis-jenis Asbuton berdasarkan sifat-sifat dan kinerja Asbuton yang telah terbukti memiliki kinerja baik, melalui uji cobapembebanan lalu lintas skala penuh diruas jalan nasional minimal selama 3 tahun. Penggunaan Asbuton butir sebagai bahan campuran beraspal, direkomendasikan hanya digunakan sebagai aspal modifikasi yang berfungsi sebagai bahan aditif dan atau sebagai filler.

Solusi yang paling tepat adalah penggunaan asbuton semi ekstraksi atau Bitumen Asbuton Mengandung Mineral (BAMM) sebagai bahan pengikat campuran beraspal, dimana mineral bitumen harus diperhitungkan sebagai subtitusi bahan pengisi (filler) dan ditambahkan kadar aspal senilai kadar mineral agar KAO tetap tecapai dalam rancangan campuran (Amal A.: 2012).
Secara filosofis, fungsi aspal dalam campuran beraspal perkersan jalan adalah sebagai binder atau pengikat campuran, semakin tinggi tingkat kemurnian dan penetrasi aspal maka semakintinggi pula daya ikatnya. Hasil penelitian yang telah dilakukan menggunakan Bitumen Asbuton Murni (BAM) hasil ekstraksi sebagai pengikat atau perekat campuran beraspal memiliki sifatsifat fisik dan mekanis dengan kualitas/grade dan kinerja yang tinggi (Amal A.: 2012). Namun kurang ekonomis disebabkan oleh harganya yang cukup mahal bila dibandingkan dengan harga aspal minyak. Untuk memaksimalkan pemanfaatan Bitumen Asbuton Murni (BAM) diperlukan inovasi teknologi pencampuran aspal minyak dengan bitumen Asbuton murni (BAM) dengan proporsi BAM lebih banyak, maka akan menurunkan harga aspal menjadikan lebih kompetitif.

Source: KNOWLEDGE MANAGEMENT Penerapan Teknologi Konstruksi Edisi Januari-Februari 2018 KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT DIREKTORAT JENDERAL BINA KONSTRUKSI BALAI PENERAPAN TEKNOLOGI KONSTRUKSI

0 Response to "Aspal Buton Solusi Kebutuhan Aspal Indonesia"

Post a Comment

Silahkan tinggalkan pesan jika Anda punya saran, kritik, atau pertanyaan seputar topik pembahasan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel