Mengenal Kayu Sebagai Bahan Bangunan

Kayu merupakan bahan bangunan yang diperoleh dari hasil penebangan pohon, baik di hutan alam, hutan tanaman industri (HTI), maupun tempat-tempat lainnya. Kayu untuk bahan bangunan harus dipilih sedemikian rupa sehingga tidak memiliki cacat-cacat yang dapat membahayakan konstruksi bangunan.

Untuk keperluan tersebut, kayu dari sebatang pohon dapat dibagi menjadi 6 bagian, yakni: bagian akar, bagian pangkal, bagian tengah, bagian ujung, bagian percabangan, dan bagian cabang dan ranting.

Bagian pohon yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan adalah bagian pangkal dan bagian tengah. Bagian pangkal umumnya tidak memiliki cacat bawaan sehingga cukup baik untuk digunakan pada konstruksi bangunan. Bagian tengah kadang-kadang memiliki mata kayu, apabila mata kayunya ≤ 5 cm maka dapat digunakan untuk bahan bangunan.

Kayu hasil penebangan pohon yang masih dalam bentuk asli disebut kayu gelondongan (log). Panjang kayu log umumnya kurang dari 5 (lima) meter. Kayu log kemudian ditanggalkan kulitnya atau sebagian besar kayu gubalnya, ada yang berbetuk dolk, ada pula yang berbentuk papasan.
Kayu tersebut selanjutnya diangkut ke pabrik penggergajian. Sebelum dilakukan penggergajian, harus dirancang dimensi kayu gergajian yang akan dihasilkan sesuai dengan keadaan kayu teras. Sebab kayu teras mengalami susut lebih kecil dari kayu gubal. Tanpa memperhitungkan susut tersebut, hasil gergajian akan menghasilkan bentuk kurang baik (bengkok atau terpuntir).

Produksi kayu gergajian (lumber) yang akan dipakai untuk konstruksi umumnya berbentuk batang kayu segi empat panjang (balok) dan lembaran kayu pipih segi empat panjang (papan). Menurut Ariestadi (2008) untuk menghasilkan produk kayu gergajian yang baik dan efisien terdapat 3 (tiga) metode penggergajian yang baik berkaitan dengan penyusutan kayu saat pengeringan, yaitu: lurus (plain sawing), perempat bagian(quarter sawing) dan penggergajian tipikal (typical sawing).

Ukuran kayu hasil gergajian yang beredar dalam perdagangan ada banyak macam. Khusus untuk bangunan, ukuran panjang kayu umumnya ± 4,20 meter dan dapat dibuat lebih panjang sesuai kebutuhan/pesanan. Sedangkan ukuran penampang kayu dibuat sesuai dengan penggunaannya pada bangunan, misalnya: lis, jalusi, papan, usuk, kuda-kuda, gelagar, dan sebagainya.

  • 6/12 ; 6/10 ; 8/12 ; 10/10 ; 15/15 →disebut balok
  •  2/15 ; 2/20 ; 3/25 ; 3/30 ; 4/40 →disebut papan
  •  4/6 ; 5/7 →disebut usuk atau kaso
  •  2/3 ; 3/4 →disebut reng
  •  1/3 ; 1/4 ; 1/6 →disebut plepet atau lis.
Jenis-jenis Kayu

Jenis-jenis kayu yang ada di Indonesia cukup banyak. Terdapat sekitar 4.000 jenis kayu, namun dari jumlah tersebut hanya sebagian kecil saja yang telah diketahui sifat dan kegunaannya. 100 jenis kayu yang ada dalam perdagangan umum dapat dilihat di sini>>Jenis dan Kelas Kayu di Indonesia

Sifat Sifat Fisis Kayu

Kayu merupakan bahan bangunan yang banyak disukai orang atas pertimbangan tampilan maupun kekuatan. Secara umum sifat-sifat kayu dapat dikenali melalui panca indera. Sifat-sifat fisis kayu sebagai bahan bangunan dapat dibedakan atas: bau, warna, tekstur, pola serat, kesan raba, berat, kekerasan, kekuatan, kadar air, dan penyusutan kayu.

Bau Kayu
Bau kayu (Frick dkk, 1999) disebabkan oleh zat organik yang terdapat pada kayu. Setiap jenis kayu memiliki bau khas tersendiri, sehingga dapat dibedakan dengan jenis kayu lainnya, seperti: asam, agatis/damar, cendana, dan sebagainya.

Warna Kayu
Warna setiap jenis kayu dipengaruhi oleh: lokasi di dalam batang (lapisan kayu gubal dan kayu teras), umur pohon, kelembaban udara, dan lamanya penyimpanan. Warna kayu ada beberapa macam, diantaranya putih, coklat, merah, kuning, coklat kemerahan, coklat kehitaman, dan lain-lain. Menurut Frick dkk (1999) warna kayu pada daerah tropis biasanya akan luntur perlahan-lahan apabila terkena sinar matahari (ultra violet).

Pola Serat Kayu
Pola serat kayu adalah sifat-sifat yang ditentukan oleh arah umum sel-sel kayu. Berdasarkan pola seratnya, kayu dapat dibedakan atas 4 jenis:
  1. Kayu yang memiliki pola serat terpadu/lurus
  2. Kayu yang memiliki pola serat berombak
  3. Kayu yang memiliki pola serat terpilin
  4. Kayu yang memiliki pola serat diagonal
Menurut Ariestadi (2008), serat kayu memiliki nilai kekuatan yang berbeda saat menerima beban. Kayu memiliki kekuatan lebih besar saat menerima gaya sejajar dengan serat kayu dan lemah saat menerima beban tegak lurus arah serat kayu.

Tekstur Kayu
Tekstur kayu adalah ukuran relative sel-sel kayu. Makin besar ukuran sel-sel kayu makin kasar teksturnya, dan sebaliknya makin kecil ukuran sel-sel kayu makin halus teksturnya. Berdasarkan teksturnya, kayu dapat dibedakan atas 3 jenis:
  1. - Kayu yang memiliki tekstur halus, seperti: damar, rasamala, sawo;
  2. - Kayu yang memiliki tekstur sedang, seperti: mahoni;
  3. - Kayu yang memiliki tekstur kasar, seperti: kamper, keruing, kelapa.
Kesan Raba Permukaan Kayu
Kesan raba permukaan kayu tergantung pada tekstur kayu, kadar air serta kadar ekstraktif yang dikandung kayu. Kesan raba permukaan kayu misalnya kasar, halus, licin, dingin, berlemak, dan lain-lain.

Berat Kayu
Kayu yang memiliki berat lebih besar biasanya lebih kuat dari kayu yang ringan. Berat kayu dikelompokkan berdasarkan berat jenisnya. Berat jenis (BJ) kayu adalah hasil perbandingan berat dan volume kayu pada keadaan kering dengan satuan g/cm3. BJ kayu sebaiknya ditentukan pada keadaan kayu kering tanur dengan kadar air 0%. Namun, apabila tidak terdapat oven (alat pengering) maka BJ kayu dapat ditentukan pada keadaan kayu kering udara dengan kadar air antara 15% – 18%. Kelas berat kayu dapat dilihat pada Tabel berikut
Kekerasan Kayu
Kekerasan kayu mempunyai hubungan langsung dengan berat jenis kayu. Kayu yang berat jenisnya besar biasanya keras, demikian pula sebaliknya kayu yang berat jenisnya kecil atau ringan biasanya tergolong kayu lunak. Berdasarkan kekerasannya, kayu dibedakan atas 4 jenis:
  1. Kayu sangat keras
  2. Kayu keras
  3. Kayu kekerasan sedang
  4. Kayu lunak
Kadar air kayu
Kadar air kayu dari pohon hidup dapat mencapai 40% – 200% dari berat kayu kering tanur (Frick Heinz, dkk, 1999). Kayu merupakan bahan yang dapat menyerap air dan melepaskannya sesuai keadaan udara disekitarnya (hygroscopic), dan dapat mengembang atau menyusut sesuai kandungan air di dalamnya. Menurut Frick dkk (1999) kayu akan melepas atau menyerap air di sekelilingnya sampai banyaknya air di dalam kayu setimbang dengan kadar air udara di sekelilingnya.

Kadar air kayu pada keadaan setimbang dengan kadar air udara tersebut dinamakan kadar air kesetimbangan, dan besarnya dinyatakan dalam % terhadap berat kayu kering tanur. Kadar air kayu yang selalu berhubungan dengan perubahan udara cenderung berubah ke arah titik kesetimbangan.
Air yang dikandung oleh kayu dibedakan dalam dua macam, yaitu:
  1. air bebas, yang terdapat dalam rongga-rongga sel dan ruang-ruang antar sel
  2. air yang terikat secara kapiler dalam dinding sel.
Apabila semua air bebas telah dilepaskan/menguap dan hanya tertinggal air yang terikat saja, maka dikatakan kayu telah mencapai titik jenuh serat (fibre saturation point), yang besarnya kira-kira pada keadaan kadar air 30%.

Penyusutan kayu
Penyusutan kayu (Frick Heinz dan Koesmartadi Ch, 1999) terjadi apabila kadar air berkurang/dilepas sampai di bawah titik jenuh serat (<30%). Besarnya penyusutan sebanding dengan banyaknya air yang dilepas di bawah titik jenuh serat tersebut. Kayu yang dikeringkan sampai kadar air 15% akan menyusut sampai kira-kira setengah penyusutan maksimal. Sebaliknya untuk setiap kenaikan kadar air 1%, kayu akan mengembang 1/130 dari pengembangan maksimal.

Penyusutan dan pengembangan kayu dinyatakan dengan prosentase dari dimensi kayu pada keadaan basah atau kadar air di atas titik jenuh serat (>30%). Penyusutan kayu dapat terjadi pada 3 (tiga) arah, yaitu: 1. arah sejajar arah serat (longitudinal); 2. arah melintang lingkaran tumbuh (radial); dan 3. arah lingkaran tumbuh (tangensial). 

Penyusutan arah tangensial lebih besar dari penyusutan arah radial, dan penyusutan arah longitudinal sangat kecil. Besarnya penyusutan untuk masing-masing arah adalah:
  1. arah longitudinal berkisar antara 0,1% – 0,2%
  2. arah radial berkisar antara 2,1% – 8,5%
  3. arah tangensial berkisar antara 4,3% – 14%

GRATIS !!!
Dapatkan update artikel terbaru IlmuBeton.com:

Jangan lupa Konfirmasi melalui link Aktivasi yang kami kirimkan ke email Anda

0 Response to "Mengenal Kayu Sebagai Bahan Bangunan"

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar berupa saran, kritik, atau pertanyaan seputar topik pembahasan. Hanya komentar dengan Identitas yang jelas yang akan ditampilkan, Komentar Anonim, Unknown, Profil Error tidak akan di approved

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel