Pemanfaatan Teknologi Geo-Membran Untuk Meningkatkan Produksi Garam Nasional

Saat ini Indonesia masih memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap garam impor untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia. Indonesia hanya mampu memproduksi 10% dari kebutuhan sedangkan sisanya 90% harus impor.

Hal ini menandakan masih adanya permasalahan pada industry garam nasional.Kurangnya pembinaan petani garam dari pemerintah adalah faktor utama yang menghambat program swasembada garam nasional.

Oleh karena itu, pemerintah harus memiliki program perencanaan yang efisien agar dapat memutus ketergantungan garam impor akibat dari industri garam yang masih bermasalah. Salah satu cara untuk mengatasi masalah pada sektor industri garam nasional adalah pembinaan petani.

Sudah saatnya petani garam meningkatkan teknologi tepat guna agar petani garam jangan asal cepat memanen garam tanpa memperhatikan mutunya.

Selama ini, petani harus menunggu waktu yang lama untuk memanen sedangkan selisih harganya tidak terlalu tinggi.Harus ada nilai tambah dari garam yang diproduksi oleh petani.

Masalah Teknis

Petani garam dalam proses pembuatan garam menggunakan cara yang sangat sederhana menguapkan air laut didalam petak pegaraman dengan tenaga sinar matahari tanpa sentuhan teknologi apapun, sehingga walaupun bahan baku melimpah namun salinitas dan polutan yang terlarut sangat beragam, disamping itu areal pegaraman terpencar pencar dan kepemilikan lahan oleh rakyat sempit, adapun hal – hal yang lain adalah sebagai berikut :
Areal Sarana
Luas areal pada pegaraman rakyat yang dimiliki secara perorangan sangat kecil yaitu berkisar antara 0,5 sampai dengan 5 hektar per unit dengan penataan petak peminihan dengan petak kristalisasi yang tidak memenuhi persyaratan dimana petak peminihan lebih sangat luas dibandingkan dengan petak kristalisasi.

Proses
Secara umum dalam proses produksi garam rakyat adalah total kristalisasi , dimana air tua yang berada dimeja peminihahan bila dianggap mencukupi kepekatanya langsung dialirkan kemeja – meja kristalisasi, tanpa pengontrolan kepekatan larutan air garam yang memenuhi syarat.

Selain hal tersebut juga didalam pemadatan atau pengolahan meja kristalisasi kurang bagus atau kurang padat sehingga pada saat pemanenan kemungkinan permukaan meja tanahnya akan ikut terbawa sehingga warna kristal garam akan menjadi keruh atau coklat.

Produktifitas
Produktifitas rata – rata petani garam berkisar 60 ton sampai 80 ton per hektar permusim dikarenakan petakan – petakan proses produksi garam masih belum tertata secara benar atau tetap sama secara turun temurun tanpa sentuhan teknologi apapun.

Mutu Garam
Garam yang dihasilkan dalam bentuk kristal yang kecil dan rapuh hal ini dikarenakan pada proses pelepasan air tua yang belum saatnya serta waktu pemanenan yang terlalu pendek yakni berkisar 3 s.d 5 hari.

Masalah Teknologi Produksi

Teknis Produksi
Peralatan dan cara produksi masih sederhana, saluran air bahan baku tidak tertata sehingga pasokan air sebagai bahan baku tidak kontinyu. Kemampuan petani garamdalam mengolah lahan garam untuk peningkatan produksi terpusat di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, sedangkan SDM di Indonesia Timur kualitasnya masih harus ditingkatkan.

Iklim
Musim kemarau di pulau jawa relatif pendek yaitu berkisar 4 s.d. 5 bulan pertahun dengan kelembaban yang tinggi, sehingga produktivitas garam pertahun rendah, sedangkan untuk Indonesia timur musim kemaraunya hingga 7 s.d. 8 bulan.

Produktivitas Lahan
Produktivitas lahan garam rakyat rata – rata masih rendah yaitu sekitar 60 s.d 80 ton/ha/musim.

Kualitas Produk
Kualitas produk tidak seragam dengan kandungan zat pencemar yang tinggi. Sehingga untuk peningkatan kualitas atau pemurnian kristal garam melalui pencucian menyebabkan naiknya biaya, oleh karena itu garam rakyat cenderung dijual dengan kualitas seadanya.

Sebagai perbandingan garam konsumsi produksi PT. Garam mengandung NaCl 95 % – 97 %, sedangkan garam rakyat mengandung NaCl lebih kecil dari 95%.

Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana garam rakyat belum tertata dan kurang memadai. Tata letak pegaraman rakyat umumnya tidak teratur dan terpencarpencar, sarana jalan yang menghubungkan petak/lahan dengan jalan raya sebagai sarana transportasi hampir dikatakan tidak ada atau tidak memadai.

Hal ini menyebabkan biaya angkut ke tepi jalan raya (transportasi ke atas truk pengangkut) menjadi tinggi sehingga pendapatan pembudidaya garam pada umumnya menjadi lebih kecil karena dipotong biaya transport yang cukup besar.

Artikel ini berlanjut ke Pemanfaatan Teknologi Geo-Membran Untuk Meningkatkan Produksi Garam Nasional (2)

GRATIS !!!
Dapatkan update artikel terbaru IlmuBeton.com:

Jangan lupa Konfirmasi melalui link Aktivasi yang kami kirimkan ke email Anda

0 Response to "Pemanfaatan Teknologi Geo-Membran Untuk Meningkatkan Produksi Garam Nasional"

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar berupa saran, kritik, atau pertanyaan seputar topik pembahasan. Hanya komentar dengan Identitas yang jelas yang akan ditampilkan, Komentar Anonim, Unknown, Profil Error tidak akan di approved

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel