-->< >

Penerapan Metode Konstruksi Shoring Truss Pada Proyek Penggantian Jembatan

Penerapan Metode Konstruksi Shoring Truss Pada Proyek Penggantian Jembatan
Jembatan Dolago adalah bagian jalan Trans Sulawesi merupakan jembatan Beton prategang yang memiliki total panjang 110 meter, panjang bentang utama (Bentang pelengkung) 70 m dan lebar 14,5 m.

Pada tanggal 26 agustus 2012 telah terjadi bencana banjir bandang di desa boyantongo Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi tengah, peristiwa itu mengakibatkan Jembatan Dolago yang menghubungkan jalan Trans Sulawesi didaerah tersebut terputus.

Sungai ini berdasarkan data masa lampaui sering dilanda banjir bandang, dimana banjir membawa material sampah beserta kayu hasil penebangan liar hutan disekitar Parigi. Material yang terbawa aliran air ini dapat berisiko pada saat pelaksanaan jembatan apabila dilaksanakan dengan metode konvensional dengan menggunakan perancah.

Inovasi yang dilakukan pada pelaksanaan pembangunan jembatan DOLAGO, adaalah pada bentang Utama konstruksi perancah struktur balok dan lantai menggunakan “Shoring Truss””. Keunggulan metode Shoring Truss ini adalah :
  1. Menahan seluruh beban Beton dan bekisting serta perancah yang menjadi beban pada saat pelaksanaan konstruksi bentang Utama. Umumnya perencana belum memperhitungkan beban-beban yang terjadi pada saat pelaksanaan.
  2. Mitigasi Risiko kerusakan pada masa pelaksanaan akibat kemungkinan timbulnya banjir yang menghanyutkan material.

Metode Pelaksanaan Teknologi Konstruksi Shoring Truss

Bagian-bagian dari System Shoring Truss

  1. Pondasi, Pondasi System Shoring Truss menggunakan tiang pancang pipa baja dengan diameter 30 cm, yang dipancang sesuai dengan titik-titik yang telah ditentukan sedalam 15 m.
  2. Caping, merupakan penutup kepala tiang pancang dimana akan dijadikan sebagai tempat dudukan slipper Beam serta Cross Beam dan akan membuat ikatan antar tiang pancang.
  3. Slipper Beam di atas Caping Posisinya di atas Caping tiang pancang, menghubungkan antar tiang pancang dengan arah sejalur dengan konstruksi. Slipper Beam merupakan Profil baja ukuran H 350 mm x 500 mm.
  4. Cross Beam di atas Caping Cross Beam merupakan Profil baja type H 350 mm x 500 mm yang dipasang di atas Slipper Beam dengan arah melintang.
  5. Shoring, Merupakan rangkaian tiang profil baja yang dirangkai sehingga membentuk suatu konstruksi penopang yang menahan beban/konstruksi di atasnya, ketinggian shoring 3 meter di atas Slipper Beam.
  6. Cross Beam di atas Shoring, merupakan Profil Baja type H 350 mm x 500 mm yang berfungsi unutuk merangkai beberapa Shoring menjadi satu kesatuan pada arah melintang.
  7. Slipper Beam di atas Shoring, Merupakan Profil Baja type H 350 mm x 500 mm yang berfungsi untuk merangkai beberapa shoring menjadi satu Kesatuan.
  8. Scew Jack, merupakan unit pengungkit yang berfungsi untuk mengatur ketinggian truss yang akan dipasang di atas shoring.
  9. Cross Beam di atas Screw jack Cross beam ini berfungsi sebagai pengikat dari screw jack yang akan juga menjadi tumpuan dari truss.
  10. Truss, sebagai penopang perancah.
  11. Baja Profil I, digunakan sebagai landasan bekisting.

Metode Pemasangan System Shoring dengan Truss

Persiapan
  1. Pertama yang dilakukan adalah menyiapkan gambar perencanaan perancah dan begisting yang akan dipasang dalam pembangunan Jembatan Dolago.
    Rencana bekisting dan perancah Jembatan Dolago
    Rencana bekisting dan perancah Jembatan Dolago
  2. Persiapan lahan kerja, yaitu menyiapkan kondisi lahan sedemikian rupa sehingga dapat dilaksanakannya pekerjaan instalasi Shoring dan truss.
  3. Menyiapkan segala kebutuhan baik tenaga, material dan alat yang akan dipergunakan dalam pelaksanaan pekerjaan pemasangan Shoring dan truss.
Pekerjaan Pemancangan
  1. Langkah pertama yaitu menyiapkan titik-titik pemancangan sesuai dengan yang direncanakan pada gambar kerja.
  2. Pemancangan dilakukan sedalam 15 m, pada kedalaman tersebut didapat daya dukung yang mampu untuk menahan beban seluruh konstruksi yang berada di atasnya. Pemancangan dilakukan dengan menggunakan peralatan Diesel hammer K 25. Tiang pancang yang digunakan adalah tiang pancang pipa besi dengan diameter 30 cm.
    Pelaksanaan pemacangan
    Pelaksanaan pemacangan
  3. Pemotongan Tiang Pancang Untuk mendapatkan permukaan yang rata, maka tiang pancang yang telah dipancang diukur elevasinya dan dilakukan pemotongan tiang pancang pada elevasi yang sama.
    Pemotongan tiang pancang
    Pemotongan tiang pancang
Pemasangan Caping/dudukan Slipper Beam

Pemasangan caping/dudukan slipper beam
Pemasangan caping/dudukan slipper beam
Pemasangan Slipper Beam di atas caping
Slipper Beam dipasang searah dengan jalur konstruksi menggunakan smabungan mur baut, berfungsi untuk memberi ikatan antar tiang pancang sehingga menjadi kaku.
Pemasangan Slipper Beam
Pemasangan Slipper Beam
Pemasangan Cross Beam di atas Slipper
Pemasangan cross Beam di atas slipper
Pemasangan cross Beam di atas slipper
Pemasangan Shoring
Baja Profil dirangkai terlebih dahulu membentuk suatu konstruksi yang terdiri dari 4 buah tiang baja dan baja pengikat yang disambung menggunakan sambungan mur baut. Shoring yang sudah dipasang disambung ke Cross Beam dengan menggunakan sambungan mur dan baut agar terjadi ikatan antar Shoring pada bagian bawah.
Pemasangan Shoring di atas cross beam
Pemasangan Shoring di atas cross beam
Pemasangan Cross Beam dan Slipper Beam di atas Shoring

Setelah Shoring terpasang maka pada bagian atas Shoring juga dipasang cross beam dan Slipper beam agar terjalin ikatan antar Shoring pada bagian atas.
Pemasangan cross beam dan slipper beam
Pemasangan cross beam dan slipper beam
Pemasangan Screw Jack
Srew Jack dipasang di atas Cross Beam digunakan untuk menopang Cross Beam dengan ketinggian yang dapat disesuaikan dengan rencana pemasangan truss.
Pemasangan Screw Jack
Pemasangan Screw Jack
Pemasangan Cross Beam di atas Screw Jack
Cross Beam dipasang di atas Screw Jack dan digunkan sebagai tumpuan Truss.
Pemasangan Cross Beam
Pemasangan Cross Beam
Pemasangan Truss
Truss yang sudah dirangkai dipasang di atas Cross Beam dengan menggunakan peralatan crane dan disambung di Cross Beam dengan menggunakan sambungan mur dan baut.
Pemasangan truss
Pemasangan truss
Pemasangan Baja Profil I
Setelah Truss terpasang maka dilanjutkan dengan pemasangan Baja Profil I untuk dijadikan dudukannya beisting Balok Tie Beam, balok anak dan Diapragma serta lantai jembatan.
Pemasangan baja profil I
Pemasangan baja profil I
Terpasangnya konstruksi sistem shoring dengan truss, maka pelaksanaan pekerjaan struktur atas pembangunan jembatan Dolago dapat dimulai antara lain yaitu pemasangan begisting balok tie beam, balok anak dan diapragma serta lantai jembatan.

Pemasangan Bekisting Tie Beam, Balok dan Lantai
Pemasangan bekisting balok, tie beam
Pemasangan bekisting balok, tie beam
Pembesian Tie Beam, Balok, dan Lantai
Pembesian tie beam
Pembesian tie beam
Pemasangan Spherical Bearing
Pemasangan Spherical Bearing
Pemasangan Spherical Bearing
Pekerjaan Ducting Steel dan Tendon
Pekerjaan ducting steel dan tendon
Pekerjaan ducting steel dan tendon
Pemasangan overstek Besi Balok Pelengkung
Pemasangan overstek besi balok pelengkung
Pemasangan overstek besi balok pelengkung
Pengecoran Tie Beam, Balok, dan Lantai

Beton yang digunakan untuk pengecoran tie beam dengan fc‟30 Mpa.
Pengecoran tie beam, balok, dan lantai
Pengecoran tie beam, balok, dan lantai
Pekerjaan Bekisting & Pengecoran Kolom Penggantung
Pekerjaan kolom penggantung
Pekerjaan kolom penggantung
Pekerjaan Balok Pelengkung
Pekerjaan Balok Pelengkung
Pekerjaan Balok Pelengkung
Pengecoran Balok Pelengkung

Dalam metode pengecoran, tie beam dilakukan secara terlebih dahulu karena menggunakan conrete pump dari dua sisi. Dari arah parigi dilakukan terlebih dahulu agar memperpendek jarang jangkauan concrete pump. 150-170 ton/m kubik per hari. Setelah itu dilaksanakan pengecoran balok dan lantainya sekaligus dalam waktu 3 hari karena volumenya lumayan cukup besar. Pada umur beton tie beam memenuhi syarat stressing dengan @50%.

Penarikan tie beam dilakukan sebanyak 70% sebelum pelengkung di kerjakan. Pengecoran pelengkung maka harus dilakukan pengecoran pengaku paling atas terlebih dahulu. Pengecoran dilakukan dari satu sisi per 2 segmen, dilakukan secara bertahap. Setelah selasai pengecoran pelengkung dari dua sisi maka dapat dilanjutkan dengan pengecoran pengaku. Pengecoran struktur atas dilaksanakan hanya dalam waktu 4 bulan.
Pekerjaan balok pelengkung
Pekerjaan balok pelengkung

Kendala saat Implementasi Konstruksi Shoring Truss

  1. Harus dibuat Cofferdam saat pemancangan Steel Pipe sehingga penampang sungai mengecil dan akan berakibat buruk saat terjadinya banjir.
  2. Pelaksanaanya membutuhkan waktu yang lama.
  3. Banyak sisa baja profil yang terbuang tdk termanfaatkan.
  4. Adapun resiko yang mungkin terjadi adalah perancah yang terpasang terbawa arus sungai.

Manfaat Penggunaan Teknologi Konstrruksi Shoring Truss.

  1. Dapat dibebani dengan peralatan konstruksi yang berat. Yang diperlukan pada pekerjaan dibagian atas.
  2. Meminimalisasi terjadinya kecelakaan kerja karena konstruksi lebih kokoh dan stabil.
Reference : PT Brantas Abipraya, Harun Latief. PT. Brantas Abipraya (Persero), berdiri sejak Tahun 1980 sebagai hasil pemekaran dari proyek Induk Pengembangan Wilayah Sungai Kali Brantas.

GRATIS !!!
Dapatkan update artikel terbaru IlmuBeton.com:

Jangan lupa Konfirmasi melalui link Aktivasi yang kami kirimkan ke email Anda

0 Response to "Penerapan Metode Konstruksi Shoring Truss Pada Proyek Penggantian Jembatan"

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar berupa saran, kritik, atau pertanyaan seputar topik pembahasan. Hanya komentar dengan Identitas yang jelas yang akan ditampilkan, Komentar Anonim, Unknown, Profil Error tidak akan di approved

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel