Atasi Inefisiensi Konstruksi Melalui Konstruksi Ramping (Lean Construction)

Proyek konstruksi melibatkan banyak peserta (multiparties) untuk melakukan kegiatan kegiatan yang direncanakan. Masing-masing peserta saling berinteraksi satu sama lain hingga semua pekerjaan yang dijadwalkan selesai. Semua bertindak untuk kepentingan mereka sendiri, berusaha untuk mengoptimalkan penggunaan tenaga kerja, peralatan dan material yang disediakan. Untuk itu diperlukan pendekatan untuk membawa masing –masing stakeholder dalam keselarasan dengan janji-janji kepada costumer.

Setiap proyek memiliki keunikan tersendiri. Metode yang dipilih untuk digunakan selama proses pelaksanaan proyek konstruksi akan memberikan gambaran jelas sumber daya yang harus tersedia. Dalam dunia konstruksi yang kompetitif, mengurangi biaya dalam upaya untuk meningkatkan daya saing pasar dan keuntungan adalah tujuan yang umum diantara semua perusahaan konstruksi.

Tiga metrik yang paling umum untuk menggambarkan produktivitas adalah faktor produktivitas atau tingkat unit (rasio biaya tenaga kerja, material dan peralatan untuk unit output), produktivitas tenaga kerja (rasio jam kerja ke unit output), dan faktor produktivitad (rasio jadwal untuk jam kerja sebenarnya.

Produktivitas di sektor konstruksi mengalami perkembangan negatif dibandingkan dengan industri manufaktur. Tingkat inovasi dalam sektor ini terlalu rendah, dianggap oleh orang banyak, sehingga di perlukan upaya untuk memperbaikinya.

Produktivitas erat kaitannya dengan tercapainya sejumlah unit produksi pada suatu waktu tertentu. Produktifitas berimplikasi kepada durasi yang dibutuhkan. Dalam fase perencanaan proyek beberapa area utama untuk dikontrol  yaitu:
  1. Budget proyek (the money plan)
  2. Jadwal proyek (te time plan)
  3. Standar kualitas (quality standars)
  4. Standar material dan pengiriman (material resources and delivery)
  5. Persediaan tenaga kerja dan produktivitas (labor supply and productivity)
  6. Proyeksi aliran kas (cashflow projections)
Selama proses pelaksanaan suatu proyek ada tiga batasan yang harus dikendalikan yaitu, biaya, mutu dan waktu pelaksanaan. Untuk mengendalikan batasan tersebut diperlukan perencanaan pelaksanaan, yaitu: metode kerja pelaksanaan, anggaran pelaksanaan. Jadwal pelaksanaan, dan anggaran kas. Seberapa besar pun usaha yang digunakan untuk meningkatkan efisiensi, selama proses konstruksi tersebut berlangsung maka akan tetap menghasilkan limbah. Tidak ada metode yang akurat yang telah dikembangkan untuk mengukur timbulnya limbah di Indonesia.
Contoh limbah pasca konstruksi
Contoh limbah pasca konstruksi
Jumlah material yang terbuang atau limbah menjadi perhatian para pelaksana konstruksi dikarenakan hampir semua material baku sebagai input konstruksi merupakan bahan yang dihasilkan dari sumber yang tidak dapat diperbaharui. Tanggung jawab untuk mengeliminasi limbah tidak hanya mengandalkan project manager, tetapi juga klien, konsultan, suppliers, mandor dan pekerja. Terdapat tujuh jenis waste / limbah dalam konstruksi, antara lain:
  1. Over produksi
  2. Waste waktu idle (waktu menunggu/waktu antrian)
  3. Waste dalam pengangkutan atau transpotasi
  4. Waste dalam pengolahan limbah: waste dalam pekerjaan itu sendiri
  5. Waste penyimpanan
  6. Waste gerakan/ aktifitas yang tidak perlu
  7. Memproduksi barang cacat (limbah produksi yang ditolak)
Construction Waste
Construction Waste


Dewasa ini bidang konstruksi sudah mengadopsi dan belajar dari industri manufaktur yaitu suatu sistem yang inovatif dan fundamental yaitu lean production dimana selanjutnya dalam bidang konstruksi dikenal dengan istilah lean construction. Konstruksi ramping (lean construction) merupakan peenerapan lean production yang diterapkan pada industri manufaktur. Prinsip tersebut diterapkan di industri konstruksi memiliki 2 tujuan yang sangat fundamental yaitu meningkatkan value dan mengurangi waste.

Dalam konstruksi ramping, pemilik, desainer, kontraktor umum dan khusus, dan pemasok bekerja bersama-sama untuk menghasilkan fasilitas yang menambah nilai, dapat dibangun, digunakan dan dipelihara. Membangun Keunggulan mendefinisikan Lean Construction sebagai 'pendekatan manajemen berbasis produksi untuk proyek pengiriman, cara baru untuk merancang dan membangun fasilitas modal.

Peningkatan proses dan penghapusan limbah merupakan hal mendasar. Untuk mencapai ini adalah penting bahwa kami bekerja sama dengan klien untuk memberikan produk yang memenuhi kebutuhan mereka. Bersandar perlu fokus pada memberikan nilai dengan mengatasi biaya total terendah sebagai lawan untuk didorong oleh harga.

Untuk melakukan ini perlu fokus pada proses yang dapat ditingkatkan dan hapus semua elemen yang tidak menambah nilai. Melalui integrasi dan praktek konstruksi dan alur kerja LEAN yang kuat, manajemen perubahan, dan teknologi pendukung, lebih dari 90% renovasi, perbaikan, pemeliharaan, keberlanjutan, dan proyek konstruksi baru dapat dikirimkan tepat waktu, sesuai anggaran, dan kepada kepuasan semua peserta dan pemangku kepentingan.

Posting ini menguraikan pengiriman Lean construction, diperlukan perubahan yang harus terjadi di seluruh Arsitektur, Rekayasa, Konstruksi, Operasi, dan Pemilik (AECOO) sektor, dan teknologi pendukung yaitu BIM (Building Information Modeling) kombinasi yang membuka jalan yang jelas bagi para peserta untuk mencapai hasil yang lebih baik. Semua bentuk konstruksi, dan ada fase proyek terkait, telah dilihat sebagai linear dan diskrit. Ini menetapkan panggung untuk berbagai hambatan untuk memaksimalkan efisiensi.

Adopsi dari perspektif proses kontinu versus linier, memberikan banyak manfaat. Grafik berikut menggambarkan konvergensi yang terintegrasi dan berkelanjutan dari pengiriman Lean construction dan semua kompetensi, proses, dan teknologi yang sebelumnya berbeda dan berbeda. Tujuan dari proses LEAN antara lain:
  1. Pecahkan masalah pelanggan sepenuhnya dengan memastikan bahwa semua barang dan jasa berfungsi, dan bekerja bersama
  2. Jangan buang waktu pelanggan
  3. Berikan apa yang diinginkan pelanggan.
  4. Sediakan apa yang diinginkan tepat di tempat yang diinginkan
  5. Sediakan apa yang diinginkan di tempat yang diinginkan saat diinginkan
  6. Terus gabungkan solusi untuk mengurangi waktu dan kerumitan pelanggan.
Adopsi dari perspektif proses kontinu versus linier, memberikan banyak manfaat. Grafik berikut  menggambarkan konvergensi yang terintegrasi dan berkelanjutan dari pengiriman konstruksi LEAN dan semua kompetensi, proses, dan teknologi yang sebelumnya berbeda dan berbeda.

Common Data Environment – The operational flow
Common Data Environment – The operational flow
Lean construction membutuhkan cara-cara baru berinteraksi setiap hari. Untuk beberapa, perubahan yang diperlukan dalam budaya, alur kerja, dan dinamika umum sulit untuk dicapai. Penerapan LEAN untuk konstruksi adalah fokus pada nilai terbaik untuk semua peserta proyek. Aspek inti dari LEAN telah dikerahkan selama beberapa dekade melalui metode penyampaian konstruksi kolaboratif seperti Integrated Project Delivery (IPD) untuk konstruksi besar baru dan Job Order Contracting (JOC ) untuk renovasi, perbaikan, pemeliharaan, keberlanjutan, dan konstruksi baru yang kecil. 

Peran kontraktor atau penyedia layanan lain yang terkait dengan lean constructions hanya untuk memberikan apa yang diharapkan oleh owner. Ini mencakup beberapa aktivitas sebelum memulai proyek, tidak terbatas pada: 
  • Menentukan tujuan proyek 
  • Memahami kebutuhan bisnis dan keuangan klien 
  • Memahami kebutuhan pengguna 
  • Mengidentifikasi semua pemangku kepentingan dan kebutuhan / persyaratan mereka. 
  • Menentukan kondisi lokal 
  • Menentukan kode, standar, & hukum yang berlaku 
Salah satu contoh penerapan lean construction, The Neenan Company dengan menerapkan prinsip lean construction termasuk dalam salah satu perusahaan desain dan pembangunan konstruksi yang paling sukses dan paling cepat berkembang di Colorado. Perusahaan telah bekerja untuk memahami prinsip pemikiran lean dan mencari aplikasi untuk bisnisnya, menggunakan ‘Study Action Team’ dari para karyawan untuk memikirkan kembali cara mereka bekerja. Neenan dalam pengerjaan proyeknya telah berkurang waktu proyek dan biaya hingga 30%, melalui pengembangan seperti: 
  • Meningkatkan aliran kerja di situs dengan menentukan unit produksi dan menggunakan alat seperti kontrol visual proses; 
  • Menggunakan tim desain khusus yang bekerja secara eksklusif pada satu desain dari awal hingga akhir dan mengembangkan alat dikenal sebagai 'Skema Desain dalam Sehari' untuk mempercepat proses desain secara dramatis; 
  • Berinovasi dalam desain dan perakitan, misalnya melalui penggunaan panel pengisi bata prafabrikasi dibuat dari atap atrium pra-berkumpul dan dipasang di tempat; 
  • Mendukung subkontraktor dalam mengembangkan alat untuk meningkatkan proses 
Lean Construction Delivery
Lean Construction Delivery
Fokus utama dari Lean Construction antara lain:
  1. Fasilitas dan proses pengiriman dirancang bersama-sama untuk lebih mengungkapkan dan mendukung tujuan pelanggan. Iterasi positif dalam proses didukung dan iterasi negatif berkurang.Dalam prosesnya didukung dan iterasi negatif berkurang. 
  2. Pekerjaan terstruktur di seluruh proses untuk memaksimalkan nilai dan mengurangi limbah pada tingkat pengiriman proyek.  
  3. Upaya untuk mengelola dan meningkatkan kinerja ditujukan untuk meningkatkan kinerja proyek total karena lebih baik daripada mengurangi biaya atau meningkatkan kecepatan aktivitas apa pun.  
  4. "Pengendalian" didefinisikan ulang dari "hasil pemantauan" menjadi "pembuatan kontrol didefinisikan kembali dari hasil pemantauan untuk membuat sesuatu terjadi." Kinerja perencanaan dan sistem kontrol diukur dan diperbaiki. 
Sementara beberapa akan berpendapat bahwa "Setiap situasi unik" dan tidak ada aplikasi standar LEAN, karakteristik inti dan persyaratan untuk LEAN memang ada. Singkatnya, konsistensi dalam penyelenggaraan proses sangat penting dan dapat dengan mudah hidup di dalam lingkungan perbaikan terus-menerus. Proses LEAN dibangun untuk beradaptasi berdasarkan kompetensi dan komunikasi para partisipan.
Veronica Kusumawardhani, ST., M.Si. & Nuryamah, S.Pd 
Daftar Pustaka :
_.2004. Lean Construction.[Online]Tersedia: http://constructingexcellence.org.uk/wpcontent/uploads/2015/03/lean.pdf. Diakses [9 Mei 2018]
AU,Stephen.2013. IPD, Lean Construction & iBIM. [Online] Tersedia: https://www.slideshare.net/StephenAu/lean-construction-bim. Diakses [7 Mei 2018] 
Howell, Greg & Glenn Ballard. Implementing Lean Construction: Understanding and Action.[Online]Tersedia:https://www.leanconstruction.org/media/library/id13/Implementing _Lean_Construction_ Understanding_and_Action.pdf. Diakses [8 Mei 2018] 
Mudzakir, Ahmad Chasan.. dkk. 2017. Evaluasi Waste dan Implementasi Lean Construction. Jurnal Karya Teknik Sipil Vol 6, nomor 2. Universitas Dipenogoro .

GRATIS !!!
Dapatkan update artikel terbaru IlmuBeton.com:

Jangan lupa Konfirmasi melalui link Aktivasi yang kami kirimkan ke email Anda

0 Response to "Atasi Inefisiensi Konstruksi Melalui Konstruksi Ramping (Lean Construction)"

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar berupa saran, kritik, atau pertanyaan seputar topik pembahasan. Hanya komentar dengan Identitas yang jelas yang akan ditampilkan, Komentar Anonim, Unknown, Profil Error tidak akan di approved

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel