-->< >

Ini Dia Cara Mengantisipasi Tsunami Dengan Alat "Buoy" Sebagai Pendeteksi Tsunami Lebih Dini

Pelampung Samudra (Buoy) Mengukur Seluruh Rentang Variabel Cuaca Seperti Tinggi Gelombang, Periode Dan Arah Gelombang, Kecepatan Dan Arah Angin, Suhu Udara Dan Air, Dan Tekanan Barometer
Sejak 2012,  buoy atau pendekteksi tsunami di Indonesia dilaporkan tak berfungsi lagi. Padahal semula memiliki 21 buoy yang dihibahkan dari Jerman, Amerika Serikat, dan Malaysia. Hal ini terjadi karena tidak adanya biaya pemeliharaan dan operasi menyebabkan buoy tidak berfungsi sejak tahun 2012, tidak hanya rusak namun juga hilang.

BMKG mencatat, pada tahun 2011 lalu, tujuh unit buoy di perairan Banyuwangi tidak sengaja rusak oleh nelayan, sementara di Papua, dari 18 alat sensor gempa dan tsunami termasuk buoy, hanya menyisakan 8 unit yang masih berfungsi.

Menurut Sutopo Purwo Nugroho selaku Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Pendanaan bencana itu terus turun tiap tahun. Ancaman bencana meningkat, kejadian bencana meningkat, anggaran BNPB justru turun. Ini berpengaruh terhadap upaya mitigasi.

Pemasangan alat peringatan dini terbatas anggaran yang berkurang terus. Kerusakan buoy sudah tentu memengaruhi akurasi dan kecepatan peringatan dini tsunami. Dengan adanya buoy, kita bisa secara tepat  dan cepat menentukan ada tidaknya tsunami, kita juga bisa mengetahui daerah mana yang akan paling parah dihantam tsunami.

Sehingga penanganan bencana pun bisa lebih fokus. Buoy masuk ke dalam grand design Indonesia Tsunami Early warning System yang dirancang sejak tsunami Aceh 2004 silam. Pada tahun 2006, BPPT memasang delapan unit buoy tsunami di Samudra Hindia atau barat Simeulue di Aceh, kemudian lautan Mentawai, dan barat Bengkulu, di bagian selatan.

Buoy dipasang di perairan Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Cilacap, Bali, Laut Flores, Laut Maluku, dan Laut Banda. Buoy yang dipasang terapung pada jarak 800 kilometer dari tepi pantai, karena di samudra lepas, tidak ada yang mengawasi dan pada akhirnya hilang semua. Bahkan ada yang ditemukan di Muara Angke, karena diambil nelayan. Karena ada GPS-nya, maka termonitor. Ketika didatangi, sudah dikanibal, dibongkar-bongkar.

Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT pernah membuat hitungan biaya. Untuk memasang empat unit buoy tsunami butuh Rp 20 miliar. Lalu biaya untuk pemasangan empat titik buoy selama 80 hari termasuk ongkos pemeliharaan darurat berkisar Rp10 miliar.

Total anggaran yang perlu disiapkan pemerintah adalah Rp30 miliar per empat unit buoy. Jika pada awalnya, Indonesia memiliki 22 buoy, setidaknya butuh dana Rp165 miliar untuk merawatnya. BPPT yang mengawal pengadaan dan perawatan buoy, tidak memiliki anggaran.
Tsunami Early Warning System
Tsunami Early Warning System 
Menurut BMKG tanpa buoy sebenarnya peringatan dini tsunami juga bisa dilakukan, namun akan lebih baik jika ada buoy, demi kecepatan dan akurasi data termasuk berapa banyak populasi yang bisa selamat karena keputusan peringatan dini tsunami memberikan waktu bagi warga pesisir untuk menyelamatkan diri. Tetapi ada konsekuensi tanpa Buoy. Desember 2017 lalu, guncangan gempa dirasakan warga di pesisir selatan Jawa, terdapat peringatan dini tsunami di Pesisir Pangandaran, Jawa Barat yang belum berakhir selama berjam-jam, karena tidak ada buoy yang dapat melaporkan secara aktual tinggi permukaan laut. Peringatan dini tsunami baru berakhir setelah tiga jam, tanpa adanya tsunami.

Ketiadaan alat yang mengapung di laut itu mengharuskan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi tsunami pasca gempa berdasarkan metode pemodelan. Artinya, perkiraan tsunami itu dihitung dalam perangkat lunak, berdasarkan pusat kedalaman dan magnitudo gempa. Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono mengatakan, metode penghitungan potensi tsunami yang kini diterapkan BMKG tak selalu presisi. "Dulu skenarionya, data buoy mendukung BMKG. Kalau data itu ada, maka level peringatan tsunami kami akan semakin tegas.

Berbeda dengan di Palu, ketinggian gelombang saat menghantam daratan pada peringatan dini tsunami sebelum berakhir, tidak bisa dipastikan, ketinggian hingga cepatnya gelombang laut ke daratan diketahui melalui skenario tsunami yang telah diperhitungkan sebelumnya. Menurut Deputi Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT, Wahyu Pandoe gempa bumi ini berkekuatan 200 kali Bom atom Hiroshima. Akibatnya tsunami yang menghantam kota Palu tersebut membuat kaget banyak pihak karena ukuran kekuatan yang lebih besar dari prediksi.
Pemasangan Alat Deteksi Dini Tsunami
Pemasangan Alat Deteksi Dini Tsunami 
Buoy merupakan salah satu opsi teknologi pendekteksi dini terjadinya tsunami yang dirancang dan dibangun dengan bantuan pusat geologi dekat Berlin, Geoforschungszentrums (GFZ) Potsdam. Di dasar laut, terdapat alat pengukur tekanan gelombang laut yang dapat mendeteksi secara cepat dan langsung dilaporkan ke buoy yang berada di atas permukaan laut. Tinggi gelombang yang akan terhempas menuju pesisir secara akurat dapat dilaporkan buoy. Ketahui cara kerja buoy untuk mendekteksi gelombang tsunami. Berikut mengenal cara kerja buoy:
  1. Buoy terdiri dari sitem pelampung yang diletakkan di permukaan laut dan ocean bottom unit (alat pengukur di dasar laut) yang ada di dasar laut. 
  2. Sensor yang tertanam dalam buoy akan mengirimkan sinyal saat terjadi perubahan ketinggian air laut. 
  3. Pengukur di dasar laut dan di permukaan akan berkomunikasi jika mendekteksi gelombang. 
  4. Sinyal yang mendekteksi gelombang akan mengirimkan data ke satelit untuk diteruskan ke stasiun pusat di darat. 
  5. Data yang dikirim berupa kondisi atmosfer dan perairan, temperature, salinitas (tingkat kadar garam), arus, tinggi gelombang yang terhempas menuju pesisir. 
  6. Alarm peringatan dini tsunami di pesisir pantai akan diaktifkan. 

TEWS
TEWS
Ina-TEWS adalah suatu system peringatan dini tsunami yang komprehensif, yang di dalamnya telah diterapkan teknologi baru yang dikenal dengan Decision Support System (DSS). DSS adalah sebuah sistem yang mengumpulkan semua informasi dari hasil sistem monitoring gempa, simulasi tsunami, monitoring tsunami dan deformasi kerak bumi setelah gempa terjadi.

Kumpulan informasi ini merupakan faktor-faktor pendukung untuk menyiarkan berita peringatan dini tsunami dan evaluasi peringatan dini tsunami. Dari sistem monitoring tersebut, DSS akan mengeluarkan beberapa jenis berita atau peringatan dini yang harus diambil oleh operator pada waktu yang ditentukan melalui GUI (Graphic User Interface).

Ina- TEWS mampu memberikan peringatan dini tsunami dalam waktu lima menit setelah kejadian gempa bumi yang berpotensi membangkitkan tsunami. Terdapat dua komponen utama dalam sistem Indonesia Tsunami Early Warning System (Ina TEWS), yaitu komponen struktural dan kultural. Dalam komponen struktural sendiri terdapat tiga bagian yang berperan yaitu seismometer yang dioperasikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), alat pasang surut yang dipasang di pantai-pantai dan dioperasikan oleh Bakosurtanal serta Tsunami Buoy, kata Kepala Program Operasi Ina Buoy TEWS BPPT, Wahyu Pandoe saat diwawancara oleh salah satu  stasiun televisi swasta mengenai Buoy Tsunami hasil kerekayasaan BPPT (18/03). 

Buoy Tsunami, berfungsi untuk mendeteksi ada atau tidaknya gelombang tsunami. Perlu dicatat, yang mendeteksi sebenarnya bukan buoynya, tetapi Ocean Bottom Unit atau OBU yang diletakkan di dasar lautlah yang dapat mendeteksi ada atau tidaknya gelombang tsunami, jelasnya. OBU secara aktif mengirim data melalui underwater acoustic modem ke tsunami buoy yang terpasang di permukaan laut. Tsunami Buoy sendiri berperan sebagai penerima data dari OBU.

Kemudian, tsunami buoy mentransmisikan data tersebut via satelit ke pusat pemantau tsunami Read Down Station (RDS) di Gedung I BPPT lantai 20. Buoy yang dipasang di dekat sumber gempa dan tsunami, bekerja berdasarkan gelombang tsunami atau anomali elevasi muka air laut yang dideteksi oleh sensor yang ditempatkan di OBU.

Alat inilah yang berfungsi merekam kedatangan gelombang tsunami. Bilamana terjadi perubahan air laut yang tiba-tiba, itu salah satu indikasi yang menandakan adanya tsunami. Sistem ini kemudian akan berubah menjadi tsunami warning yang berupa data gelombang akustik kemudian dikirimkan ke buoy. Dari buoy lalu akan dikirim ke salah RDS di BPPT. Buoy yang sekarang dioperasikan di perairan Indonesia terdiri dari empat jenis, yaitu Buoy Tsunami Indonesia, Deep Ocean Assessment and Reporting Tsunamis (DART) Amerika, German-Indonesian Tsunami Warning System (GITWS) dan Buoy Wavestan. 

Para Teknisi Memeriksa Tsunami Buoy yang Rusak di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta
Para Teknisi Memeriksa Tsunami Buoy yang Rusak di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta
Untuk kedepannya, jelas Wahyu, akan dilakukan pengembangan dalam sistem Ina TEWS yaitu dengan menggunakan sistem kabel laut. Jadi dari OBU yang ditempatkan di laut dalam, akan dihubungkan ke tower atau mercusuar di pantai dengan menggunakan kabel, dan diteruskan ke stasiun RDS di BPPT. 

Direncanakan sistem kabel laut ini akan diterapkan di lima titik awal yaitu Ujung Kulon, Pulau Enggano Bengkulu, selatan dan utara Pulau Siberut, serta Pulau Rondo. Dengan adanya kabel laut ini bukan berarti kita menghilangkan peran buoy. Buoy tetap dipasang, namun sistem kabel laut digunakan sebagai komplemen. Indikatornya adalah buoy untuk mendeteksi tsunami yang sifatnya long distance atau tsunami jarak jauh. Sementara sistem kabel ini diharapkan bisa mendeteksi tsunami lokal atau urgent tsunami. 

Mahalnya biaya pengadaan sekaligus perawatan buoy tsunami, membuat Indonesia harus berpikir kreatif untuk mengatasi permasalahan tersebut. Peneliti di BPPT bersama lima institusi atau lembaga lain tengah merintis pengembangan buoy pendeteksi tsunami jenis lain, yakni cable based tsunameter (CBT).

Alat yang merupakan generasi ketiga itu, dirancang ulang dan lebih ramah kantong. Nantinya, perangkat baru ini akan dipasang di laut sedalam 4.000-6.000 meter yang telah terhubung kabel listrik dan data. Tidak mengapung seperti buoy pada umumnya. Tentu saja lebih aman dari aksi vandalisme dan pencurian. Oleh karena itu, lanjut Wahyu Pandoe , sangat diharapkan bantuan masyarakat khususnya nelayan dalam menjaga buoy tsunami di laut. Karena alat ini satu-satunya alat di laut yang dapat mengkonfirmasi ada atau tidaknya tsunami. Dengan terjaganya buoy tsunami ini, maka akan sangat menolong keselamatan masyarakat, terutama yang ada di pesisir. 
Buoy Rusak yang Ditarik ke darat oleh Nelayan di Trenggalek
Buoy Rusak yang Ditarik ke darat oleh Nelayan di Trenggalek 
Memang, langkah pemerintah membuat alat buoy mandiri patut diapresiasi. Namun, alangkah baiknya jika hal itu diikuti dengan konsistensi dalam perawatan dan kontrol yang ketat, agar peristiwa sebelum-sebelumnya tak terulang kembali. Tak lupa, instansi terkait juga bisa memberikan penyuluhan terhadap masyarakat tentang pentingnya alat tersebut bagi keselamatan mereka. Bukan apa-apa, hal ini bertujuan untuk menumbuhkan  rasa saling memiliki dan bertanggung jawab terhadap fasilitas pemberian pemerintah.
Dwi Citra Hapsari,S.Pd.
Daftar Pustaka :
Bangkapos.com.2018. Buoy Alat Pendekteksi Tsunami di Indoensia Rusak dan Hilang dan Dicuri.
BBC News. 2018. Lima Hal yang Perlu Diketahui Tentang Buoy Alat Deteksi Tsunami. 
CNN Indonesia. 2018. Seluruh Buoy Deteksi Tsunami di Indonesia Rusak.
Marine Science.2011.Teknologi Komplemen Terbaru Pendeteksi Tsunami. 

GRATIS !!!
Dapatkan update artikel terbaru IlmuBeton.com:

Jangan lupa Konfirmasi melalui link Aktivasi yang kami kirimkan ke email Anda

0 Response to "Ini Dia Cara Mengantisipasi Tsunami Dengan Alat "Buoy" Sebagai Pendeteksi Tsunami Lebih Dini"

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar berupa saran, kritik, atau pertanyaan seputar topik pembahasan. Hanya komentar dengan Identitas yang jelas yang akan ditampilkan, Komentar Anonim, Unknown, Profil Error tidak akan di approved

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel