Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Building Information Modeling (BIM) Untuk Masa Depan Konstruksi

Pembangunan infrastruktur melibatkan sejumlah proses berkelanjutan dan berkesinambungan mulai dari perencanaan, perancangan, pelaksanaan konstruksi, operasi infrastruktur, pemeliharaan, hingga pembongkaran bangunan.

Guna mencapai keutuhan fungsi pembangunan, seluruh proses di atas dilakukan secara padu dan terintegrasi. Keseluruhan siklus hidup bangunan yang berlangsung berpuluh-puluh tahun lamanya ini tentu menjadi perhatian penting, namun tantangan hadir ketika implementasi masing-masing bagian siklus hidup dilakukan dalam media yang terpisah.

Integrasi siklus hidup bangunan yang cukup kompleks ini berpeluang terhadap banyak kesalahan karena dilakukan secara manual akibat belum tersedianya media integrasi seluruh proses dalam siklus hidup bangunan.

Sejarah Building Information Modeling BIM

Sebagai upaya menjawab tantangan integrasi seluruh proses dalam siklus hidup bangunan ini, hadir sebuah konsep pemodelan bangunan pada tahun 1970-an. Konsep ini tercatat dalam sejumlah penelitian di pertengahan 1980, kemudian berkembang hingga istilah Building Information Modeling (BIM) muncul pada tahun 1992 di dalam sebuah kajian ilmiah oleh G.A van Nederveen dan F.P Tolman.

Namun demikian, istilah Building Information Modeling maupun singkatannya, BIM, tidak cukup populer hingga tahun 2002 ketika sebuah perusahaan piranti lunak mengeluarkan kajian ilmiah berjudul “Building Information Modeling” yang disusul oleh sejumlah perusahaan piranti lunak lainnya.

The US National Building Information Model Standard Project Committee atau Komite Proyek Standar Building Information Model Nasional Amerika Serikat menyebutkan bahwa definisi Building Information Modeling (BIM) sebagai representasi digital dari karakteristik fisik dan fungsional suatu fasilitas.

BIM merupakan sumber pengetahuan bersama untuk mendapatkan informasi tentang fasilitas yang membentuk dasar keputusan yang dapat diandalkan selama siklus hidupnya; didefinisikan sebagai apa yang ada dari konsepsi paling awal sampai dengan pembongkaran.
Pemodelan Bangunan
Pemodelan Bangunan
sumber graphisoft.com
Megahnya inovasi yang dihadirkan konsep BIM ketika berkembang di awal tahun 2000-an belum diiringi dengan perkembangan teknologi digital saat itu, sehingga BIM mulanya hadir dalam metafora piranti lunak Computer-Aided Design (CAD). Dapat dikatakan bahwa CAD adalah bentuk primitif BIM dengan pemodelan dua dimensi (2D).

Seiring berjalannya waktu, masyarakat konstruksi fasih menggunakan CAD, sehingga BIM kemudian disalah mengerti sebagai perkembangan CAD dari pemodelan 2D menjadi tiga dimensi (3D).

Sekalipun BIM mengandalkan pemodelan 3D, dapat juga disebut empat dimensi (4D) dengan dimensi waktu atau bahkan hingga tujuh dimensi (7D), BIM lebih dari sekadar kumpulan informasi grafis dalam pemodelan multi dimensi.

Konsep BIM

BIM mengandung kumpulan data digital baik berupa informasi grafis maupun non-grafis. yang diproses dalam ruang digital bernama Common Data Environment (CDE) atau lingkungan data umum. Dengan kata lain, BIM bukanlah objek namun cara kerja.

Dalam ranah konstruksi, BIM dapat didefinisikan sebagai proses penyampaian dan pengoperasian aset bangunan dengan menggunakan informasi digital terstruktur yang dapat diakses semua pihak proses konstruksi terkait.

Informasi digital terstruktur ini berarti bahwa informasi non-grafis terhubung dengan informasi grafis dalam model 3D. Akses informasi tersedia tidak hanya bagi pihak perancang (designer), namun juga bagi pihak pelaksana atau kontraktor, pihak pengawas, tim teknis, tim arsitektur, hingga pemilik bangunan (owner).
Contoh tampilan BIM
Contoh tampilan BIM
Sebagai contoh, disajikan representasi 3D bangunan lepas pantai (off-shore). Ditampilkan pada gambar “Contoh Tampilan BIM” di atas, rincian sambungan pipa-pipa penyusun bangunan tersebut. Nampak bahwa rincian dari sambungan muncul ketika salah satu sambungan pipa dipilih dan di-klik. Rincian yang muncul berupa informasi grafis maupun non-grafis terkait sambungan pipa.

Selain pop-up informasi detil grafis dan sejumlah informasi non-grafis, informasi lainnya dapat diakses seperti antara lain informasi mengenai fabrikasi atau manufaktur, lead-time, tingkat kinerja, biaya, hingga prediksi waktu perlunya penggantian komponen.

Secara menyeluruh, kumpulan informasi grafis dan non-grafis yang terstruktur dengan baik ini disebut sebagai “model informasi" atau information model. Model informasi digunakan selama siklus hidup bangunan tersebut di  dalam seluruh tahapannya, dari awal saat perancangan hingga tahap terakhir yang memungkinkan yaitu pembongkaran bangunan. Hal ini berarti termasuk di dalamnya tahap konstruksi, operasi, pemeliharaan, atau mungkin juga renovasi.
Siklus Hidup Bangunan
Siklus Hidup Bangunan
Kompleksitas model informasi tersaji merupakan hasil kolaborasi data yang berasal dari sejumlah pihak yang terlibat di seluruh tahapan dalam siklus hidup bangunan. Oleh karena itu, setiap pihak dapat mengakses secara pasif maupun aktif (dengan melakukan perubahan yang telah didiskusikan) model informasi bangunan terkait. Semua pihak diharapkan dapat berkolaborasi, bekerjasama, dan berbagi informasi di dalam ruang online yang dapat diakses bersamaan, yaitu Common Data Environment (CDE).

Manfaat BIM

Meskipun banyak pertanyaan terkait aplikasi BIM dan dampak sampingannya yang terkesan tidak menguntungkan seperti butuh waktu lama untuk menguasainya atau biaya piranti lunaknya yang mahal, BIM terbukti telah memberi kontribusi manfaat yang besar dalam jangka waktu lama bagi masing-masing pihak pengguna BIM dalam proyek.

Sebuah instansi yang berkecimpung dalam dunia bangunan dan konstruksi dari Selandia Baru, BRANZ, merangkum manfaat BIM bagi setiap pihak dalam sektor konstruksi berdasarkan pengalaman pengguna  di Amerika dan Eropa. Tercatat bahwa pemerintah Inggris memperkirakan penggunaan BIM mengurangi biaya sebuah bangunan publik di Inggris selama siklus hidupnya sebanyak 20-30%.

Bagi perancang, 75% penggunanya mengatakan bahwa BIM memudahkan komunikasi multi-pihak dalam tahap perancangan dan 57% penggunanya mengakui BIM telah membantu mengurangi kesalahan dalam perancangan.

Dalam hal manajemen proyek, penggunaan berkelanjutan dari BIM menghemat waktu pengerjaan proyek hingga 37%. Sementara itu, 65% kontraktor pengguna BIM membuktikan bahwa BIM efektif mengurangi pengerjaan ulang, kelebihan biaya, juga jadwal yang terlewat selama konstruksi. Dari segi aset, 62% pengguna BIM mengaku memperoleh nilai pengembalian investasi (Return of Investment, ROI) yang lebih besar.

BIM juga terbukti meningkatkan produktivitas pada instansi kecil. Sebuah firma arsitektur kecil di Amerika Serikat mendapati bahwa penggunaan BIM meningkatkan 37% produktivitas proyek dibandingkan jika menggunakan CAD tradisional.

Meskipun pengguna baru mengalami kesulitan dalam beradaptasi yang memakan sejumlah besar waktu di awal penerapan BIM, namun penerapan BIM untuk jangka waktu panjang menunjukkan potensi penghematan waktu kerja 20% dari total waktu 5 hari kerja.

Masa Depan BIM di Indonesia

Sejumlah pemerintah telah mendorong penggunaan BIM di negaranya dengan komitmen yang diwujudkan dalam peraturan maupun badan pengawal aplikasi BIM. Sebut saja Amerika Serikat, Inggris, Norwegia, Denmark, Finlandia; negara-negara di wilayah Asia seperti Hong Kong, Korea Selatan, dan Singapura; dan masih banyak lagi pemerintah yang mengawal penggunaan BIM di negaranya.

Indonesia saat ini sementara merintis penggunaan BIM. Inisiatif masyarakat jasa konstruksi dalam upaya mengimplementasikan BIM patut diapresiasi seperti yang diwujudkan oleh Institut BIM Indonesia, yaitu organisasi non-profit hasil kolaborasi para konsultan, insinyur, kontraktor, asosiasi profesi, dan perguruan tinggi yang memiliki visi mengembangkan standar BIM di Indonesia melalui program OpenBIM.

Sejumlah diskusi telah dilakukan dengan berbagai komponen masyarakat jasa konstruksi, dari industri, akademi, hingga pemerintah. Sebut saja Diskusi Panel BIM bersama Profesional dan Akademisi di ITB pada 14  Oktober 2016, diskusi dengan Balai Penerapan  Teknologi Konstruksi pada tanggal 10 dan 28 Februari 2017, hingga perhelatan akbar Indonesia BIM Forum 2017 pada tanggal 17 Mei 2017 silam sebagai momentum adaptasi BIM dalam industri AEC (Architecture, Engineering, and Construction) di Indonesia.

Naomi Fransiska Panjaitan, S.T.,
Daftar Pustaka :
Autodesk. 2017. Bust the Myths Around BIM for Small Firms. [Online] Tersedia: https://www.autodesk.com/campaigns/bim-for-small-firms-new/why-bim/bim-mythsinfographic [12 April 2017].
BRANZ. 2017. Productivity Benefits of BIM. [Online] Tersedia: http://www.mbie.govt.nz/ about/whats-happening/news/document-image-library/nz-bim-productivity-benefits.pdf [6 Juni 2017].
Hodgson, Mick. 2017. Reducing Engineering , Detailing and Fabrication Costs During Structural Construction Projects. BIM Innovation Conference. Jakarta.
Institut BIM Indonesia. 2016. Metodologi BIM dan Tantangan Implementasinya di Indonesia. Seminar Teknologi Building Information Modelling (BIM) di Lingkungan Industri AEC. Jakarta. [Online] Tersedia: http://pjjak.net/pluginfile.php/8200/mod_resource/content/1/201610-Seminar%20BIM-17-05-Metodologi%20BIM%20dan%20 Tantangan%20Implementasinya%20di%20Indonesia.pdf [12 April 2017].
Institut BIM Indonesia. 2017. Institut BIM Indonesia. [Online] Terseda: http://institutbim.id/ [6 Juni 2017].
The B1M. 2017. BIM for Beginners. [Online] Tersedia: http://www.theb1m.com/BIMFor-Beginners [5 Juni 2017].
The B1M. 2017. Top 3 BIM Myths Dispelled. [Online] Tersedia: http://www.theb1m.com/ video/top-3-bim-myths-dispelled [12 April 2017].
M Hadi H, S.T.
M Hadi H, S.T. Sharing and building, berharap dapat berpartisipasi walaupun dalam hal kecil untuk kemajuan pengetahuan - Mengabdi di Dinas Pekerjaan Umum salah satu instansi Pemerintah Daerah

Post a Comment for "Building Information Modeling (BIM) Untuk Masa Depan Konstruksi"