Batako Styrofoam Memanfaatkan Limbah Untuk Bangunan

Batako Styrofoam Memanfaatkan Limbah Untuk Bangunan
Seperti halnya plastik, styrofoam juga merupakan salah satu jenis sampah yang sulit terurai di tanah. Meskipun menjadi musuh bagi lingkungan hidup, namun styrofoam juga tidak terlepas dari kehidupan  masyarakat.

Limbah styrofoam sering dianggap remeh oleh masyarakat karena merupakan barang yang sudah tidak terpakai. Tetapi sebenarnya limbah tersebut bisa dimanfaatkan untuk menjadi bahan baku membuat batako yang ramah lingkungan sekaligus menjadi peluang usaha yang menjanjikan.

Styrofoam merupakan limbah dari pemakaian aktifitas manusia seperti, tempat makan dan minuman, pengemasan, pengamanan barang elektronik, mesin, maupun barang pecah belah, dekorasi dan sebagainya.

Materi dari styrofoam ini bersifat non-daur ulang atau non-biodegradable (tidak dapat membusuk menjadi zat konstituen). Produk styrofoam dirancang untuk sekali pakai, namun dibutuhkan beberapa ratus tahun untuk styrofoam membusuk di lingkungan atau Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Beberapa masyarakat sudah mulai sadar akan bahaya dari styrofoam dan efek penggunaannya. Bahkan sudah ada komunitas pemuda TGGI (Teens Go Green Indonesia) yang menciptakan gerakan untuk mengajak kita agar tidak menggunakan styrofoam sebab styrofoam butuh 500 tahun untuk terurai dan penyumbang sampah terbesar di perkotaan lewat kemasan makanan.

Di perkotaan, styrofoam hanya terurai menjadi potongan-potongan kecil yang menjadi sampah di laut, taman, ruang terbuka dan anak sungai atau saluran drainase. Styrofoam memberikan kontribusi besar sebagai sampah di perkotaan, terutama karena sifatnya yang ringan seperti mengapung di atas air dan/atau mudah ditiup angin dari satu tempat ke tempat lain.

Sehingga bila tidak terpakai berdampak pada masalah pencemaran lingkungan. Akibatnya akan terjadi penurunan kualitas lingkungan perkotaan dari sampah di ruang terbuka yang mengancam kesehatan masyarakat. Sebenarnya istilah styrofoam ini adalah merek dagang milik Dow Chemical Corp dari Amerika Serikat.

Nama umumnya, yaitu EPS (Expanded Polystyrene). Dengan berkembangnya penelitian akan penggunaan styrofoam untuk saat ini sudah jauh lebih berwawasan dan bertanggung jawab dibanding dengan penggunaan untuk bahan pembungkus (packaging) dan dekorasi. Salah satu contoh penggunaan baru styrofoam yang mulai adalah untuk bahan panel bangunan.

Penggunaan styrofoam untuk bahan bangunan lebih ramah lingkungan dibanding penggunaan untuk packaging. Karena jangka waktu pemakaiannya jangka panjang dan bukan sekali buang seperti styrofoam untuk packaging Salah satu perusahaan Styrofoam terkemuka di Eropa, Jebsen & Jessen, dahulunya memproduksi styrofoam hanya untuk packaging, tetapi saat ini sudah lebih dari 70% omzetnya di Eropa adalah dari penjualan styrofoam untuk keperluan non-packaging, seperti untuk aplikasi bahan konstruksi.

Di Indonesia sendiri pembuatan bahan bangunan dengan bahan styrofoam bekas terus berkembang salah satunya adalah batako styrofoam yang memberikan kualitas tinggi dengan biaya produksi yang lebih rendah.
Campuran styrofoam pada batako
Campuran styrofoam pada batako(Sumber: sudiana1526.wordpress.com) 
Batako sudah lama digunakan dan dikenal sebagai bahan material bangunan teknik sipil, karena mempunyai beberapa kelebihan diantaranya efisien didalam pemasangan, hemat dan ekonomis. Telah dilakukan usaha untuk meningkatkan, memperbaiki mutu dan pertimbangan segi ekonomis serta menyelidiki sifat- sifat batako yang belum terungkap sebelumnya.

Antaranya dengan menggunakan agregat ringan, bahan additive, bahan tambahan dan masih banyak usaha lainnya. Batako dibagi menjadi 2 jenis yaitu batako jenis berlubang (hollow) dan batako yang padat (solid). Pada beberapa penelitian yang sudah dilakukan didapatkan hasil bahwa batako jenis solid lebih padat dan mempunyai kekuatan yang lebih baik.
Batako jenis hollow
Batako jenis hollow
Batako berbahan baku styrofoam memang belum sepopuler batako biasa yang mudah ditemukan di toko material. Hal ini terjadi karena belum banyak orang yang mengenal dan tahu manfaat dari batako styrofoam. Pada tahun 2006, seorang bernama Iswanto warga Desa Sukunan, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY membuat berbagai eksperimen batako styrofoam tetapi dengan campuran yang bermacam – macam, hingga akhirnya beliau menemukan campuran yang terbaik dan lebih pas.
Batako jenis solid
Batako jenis solid
Ide mengembangkan limbah styrofoam menjadi batako ini muncul berawal dari keprihatinan Iswanto terkait banyaknya sampah styrofoam yang ternyata hanya dibuang dan tidak laku dijual. Padahal limbah styrofoam tersebut sangat menggangu kesuburan tanah dan menimbulkan polusi karena tidak gampang untuk terurai.

Bahan baku styrofoam memang mendapat porsi lebih banyak dibandingkan dengan bahan baku lainnya. Komposisinya 50% styrofoam, 40% pasir dan 10% semen. Marzuki mengatakan, penggunaan styrofoam bisa menghemat 50% kebutuhan pasir ketimbang penggunaan batu bata. Bahan baku styrofoam juga lebih unggul dibandingkan dengan semen karena dalam styrofoam terkandung banyak serat. Ini membuat pondasi bangunan yang menggunakan styrofoam lebih kuat.

Proses Pembuatan Batako Styrofoam

Ada beberapa tahap dalam proses pembuatan batako styrofoam, yaitu :
  1. Styrofoam yang berbentuk lembaran digiling sampai hancur menjadi butiran butiran kecil.
  2. Butiran styrofoam dicampur dengan pasir dan semen. Untuk komposisinya sebanyak 80% dari styrofoam lalu dicampur 20% dari pasir dan semen
  3. Proses pencetakan dari adonan bahan baku dengan menggunakan mesin pencetak. Pada proses ini adonan dipress dengan hati – hati dan harus dilakukan oleh orang yang sudah berpengalaman.
  4. Penjemuran batako styrofoam yang memerlukan waktu setengah hari. Lamanya waktu penjemuran juga bergantung pada jumlah semen yang digunakan. 
Batako styrofoam memiliki ciri fisik hampir sama dengan ukuran bata merah. Namun, batako dari hasil limbah styrofoam ini memiliki keunggulan dibanding dengan bata merah. Selain beratnya yang lebih ringan sehingga lebih mudah dalam pemasangan, batako styrofoam juga mampu meredam suara karena serat styrofoam yang terkandung didalam batako tersebut sehingga sangat cocok digunakan pada bangunan untuk studio band. Batako styrofoam ini sangat cocok untuk pembuatan rumah dengan konsep ramah lingkungan, karena pada saat ini sedang gencar–gencarnya trend tentang penghijauan. Belum lagi kelebihannya sebagai bahan bangunan konstruksi yang tahan gempa. Hal ini dibuktikan dengan uji coba yang pernah dilakukan oleh mahasiswa Universitas Gajah Mada. 

GRATIS !!!
Dapatkan update artikel terbaru IlmuBeton.com:

Jangan lupa Konfirmasi melalui link Aktivasi yang kami kirimkan ke email Anda

0 Response to "Batako Styrofoam Memanfaatkan Limbah Untuk Bangunan"

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar berupa saran, kritik, atau pertanyaan seputar topik pembahasan. Hanya komentar dengan Identitas yang jelas yang akan ditampilkan, Komentar Anonim, Unknown, Profil Error tidak akan di approved

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel