Pemecah Gelombang (Breakwater) Apung Meminimalisir Reklamasi

Pemecah Gelombang (Breakwater) Apung Meminimalisir Reklamasi
Indonesia disebut-sebut sebagai negara maritim karena luas lautannya lebih besar daripada luas daratan. Luas total wilayah Indonesia adalah 7,81 juta km2 yang terdiri dari 2,01 juta km2 daratan, 3,25 juta km2 lautan, dan 2,55 juta km2 Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE)

Dengan demikian Indonesia memiliki potensi dan kemewahan yang luar biasa dalam sektor kelautan, sudah semestinya seluruh stakeholder melihat dan mempertimbangkan fakta ini sebagai dasar pengambilan kebijakan

Dengan luas mencapai 2/3 dari total wilayah Indonesia, laut Indonesia memiliki karakter tersendiri dengan peluang dan tantangannya. Laut Indonesia merupakan jalur perlintasan Arus Lintas Indonesia (Arlindo) yang menyambungkan Samudera Pasifik dan Samudera Hindia

Arus ini sangat besar sehingga mencapai sekitar 15 Sverdup. Sebagai gambaran, satu Svedrup setara dengan 1 juta kubik air per detik. Artinya, besarnya arus di laut Indonesia mencapai 15 juta meter kubik per detik

Selain mengandung potensi dan kekayaan yang luar biasa, laut yang luas ini juga mengandung ancaman seperti bencana alam yang bersumber dari laut

Perlu adanya perencanaan yang matang, tersinkronisasi dan terintegrasi dari seluruh kebijakan yang diambil agar pembangunan yang dilakukan bisa maksimal

Sektor konstruksi kelautan menjadi salah satu sektor penting dalam mengelola kelautan, baik itu dalam rangka pemanfaatan potensinya maupun dalam upaya meredam atau meminimalisir dampak bencana

Salah satu konstruksi yang penting di sektor kelautan ini adalah bangunan pemecah gelombang atau breakwater

Secara sederhana pemecah gelombang (breakwater) adalah suatu bangunan yang berfungsi untuk melindungi daerah perairan pelabuhan dan pantai dari gangguan gelombang

Bangunan ini memisahkan daerah perairan dari laut lepas, sehingga perairan pelabuhan dan pantai tidak banyak dipengaruhi oleh gelombang besar di laut. Daerah perairan dihubungkan dengan laut oleh mulut pelabuhan dengan lebar tertentu dimana kapal keluar masuk melalui celah tersebut
Breakwater
Breakwater
Sebenarnya breakwater atau pemecah gelombang dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu pemecah gelombang “sambung pantai” dan “lepas pantai”

Tipe pertama banyak digunakan pada perlindungan perairan pelabuhan, sedangkan tipe kedua untuk perlindungan pantai terhadap abrasi

Secara umum kondisi perencanaan kedua tipe adalah sama, hanya pada tipe pertama perlu ditinjau karakteristik gelombang di beberapa lokasi di sepanjang pemecah gelombang, seperti halnya pada perencanaan jetty
Ilustrasi Pelindung Breakwater
Ilustrasi Pelindung Breakwater
Breakwater Sebagai Solusi Abrasi Pantai

Pembangunan breakwater banyak dilakukan untuk memecahkan persoalan abrasi pantai yang banyak terjadi di hampir seluruh wilayah perairan Indonesia. Abrasi pantai di Indonesia, telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan

Sedikitnya 40 persen dari 81.000 km pantai di Indonesia, rusak akibat abrasi. Dalam beberapa tahun terakhir, garis pantai di beberapa daerah di Indonesia mengalami penyempitan yang cukup memperihatinkan
Ilustrasi Abrasi Pantai
Ilustrasi Abrasi Pantai
Abrasi merupakan proses pengikisan pantai oleh gerusan air laut, baik yang disebabkan oleh meningkatnya permukaan air laut ataupun oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak

Abrasi dapat menyebabkan semakin menjoroknya garis pantai ke darat, yang mengakibatkan mundurnya garis pantai. Oleh sebab itu, pembangunan struktur pantai untuk menjaga garis pantai sangat diperlukan

Hal ini bertujuan untuk melindungi garis pantai dari gempuran ombak atau dengan mereduksi energi gelombang agar tidak sampai ke daerah pantai. Salah satu struktur pantai yang dapat mereduksi energi gelombang adalah struktur breakwater, baik yang fix breakwater maupun floating breakwater.

Breakwater Apung Selamatkan Pantai Candidasa Bali

Abrasi pantai akan menjadi persoalan yang sangat serius apabila tidak ditangani dengan baik, terlebih lokasi dimana abrasi tersebut terjadi merupakan wilayah strategis atau menjadi pusat kegiatan masyarakat seperti kawasan wisata Pantai Candidasa di Karangasem, Bali

Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melakukan pembangunan breakwater apung sepanjang 150 meter di Kawasan Wisata Pantai Candidasa, Bali

Pembangunan breakwater apung ini diperlukan karena karena limpasan gelombang khususnya pada musim gelombang tinggi telah mengakibatkan abrasi di Pantai Candidasa yang merupakan salah satu destinasi wisata favorit di Kabupaten Karangasem.
lokasi pemasangan breakwater Pantai Candidasa
lokasi pemasangan breakwater Pantai Candidasa
Struktur breakwater harus didesain kokoh dan stabil sebagai sistem konstruksi pemecah gelombang terapung, terbuat dari sistem rangka baja, hard concrete, lightweight concrete, dan styrofoam dengan sistem koneksi (sambungan) baja stainless steel

Breakwater apung pada umumnya dibuat dengan sistem cetak dengan beton bertulang baja. Struktur tulang baja ini dibuat terangkai dan terikat satu sama lain dengan susunan menjadi satu kesatuan dengan elemen-elemen lainnya agar memberikan kekuatan yang maksimal
Ilustrasi Tiga Dimensi Modul Breakwater Apung
Ilustrasi Tiga Dimensi Modul Breakwater Apung
Breakwater apung akan dicetak dalam bentuk modular modular beton untuk mempermudah pemasangan di lapangan. Pekerjaan pabrikasi, pengecoran dan release modul breakwater ke laut dilaksanakan di Pantai Desa Manggis, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem yang lokasinya tidak jauh dari Pantai Candidasa

Setelah modul-modul itu berada di bibir pantai, selanjutnya modul-modul breakwater diturunkan ke laut dengan cara diluncurkan pada satu landasan dari pipa besi. Dalam proses ini, diperlukan adanya pasak untuk  menahan pergerakan pipa dibantu dengan menggunakan excavator untuk mendorong dan mengontrol pergerakan

Keunggulan Breakwater Apung

Contoh Aplikasi Breakwater Apung
Contoh Aplikasi Breakwater Apung
Breakwater dengan teknologi apung dipilih karena memiliki banyak keunggulan dibanding dengan teknologi konvensional. Salah satu keunggulan teknologi apung yaitu dapat menekan biaya pengeluaran daripada dengan penggunaan teknologi konvensional

Keunggulan lainnya dari sistem apung yaitu tidak terpengaruh dengan kondisi tanah yang buruk dan juga dapat dipindah-pindah. Selain itu, pembangunan pemecah gelombang apung ini juga akan dapat mengurangi hanyutnya pasir eksisting yang disebabkan oleh ombak

Pembangunan breakwater apung juga tidak akan menambah massa benda yang mendesak massa air sehingga tidak menimbulkan efek kenaikan muka air laut.

Keuntungan dari penggunaan floating structure (bangunan terapung) menurut Watanabe (2004) adalah sebagai berikut

  1. Efisiensi konstruksi karena tidak perlu pembuatan dan pengerjaan desain pondasi
  2. ramah lingkungan karena tidak merusak dan tidak menambah volume benda yang bersifat massive structure
  3. mudah dan cepat dalam pengerjaan karena proses pengerjaan dengan metode perakitan (assembling method).
  4. tahan terhadap gempa karena secara struktur tidak tertanam di tanah atau tidak berbasis pondasi namun mengapung dan hanya di ikat dengan anchor.
  5. mudah dipindah maupun diperbaiki karena sifatnya yang dapat dirakit (assembling method).
  6. konstruksi apung tidak mengalami proses konsolidasi maupun setlemen.
  7. cocok untuk pembuatan konstruksi yang mengedepankan estetika model atau bentuk dibandingkan metode konvensional yang umumnya kaku

Dengan segala keunggulan dan kelebihannya, terlebih lagi ramah lingkungan. Kedepan penerapkan teknologi modular wahana apung perlu dikembangkan dan didukung oleh seluruh stakeholder terkait.

Di banyak negara maju, sejarah penggunaan struktur terapung sudah sampai pada tahap pengembangan very large floating structure atau konstruksi bangunan terapung skala besar misalnya untuk pembangunan bandara internasional terapung (floating airport),jembatan apung (floating bridge), bahkan kota terapung (floating city)

Teknologi ini dirasa sangat aplikatif dengan kondisi geografis Indonesia yang sebagian besar wilayahnya laut dengan garis pantai nya yang umumnya panjang. Tidak mungkin setiap pembangunan struktur laut atau garis pantai harus dengan reklamasi

Penulis, Purbaya Bagus Panuntun, ST . Penelaah Jasa Konstruksi KNOWLEDGE MANAGEMENT Penerapan Teknologi Konstruksi

GRATIS !!!
Dapatkan update artikel terbaru IlmuBeton.com:

Jangan lupa Konfirmasi melalui link Aktivasi yang kami kirimkan ke email Anda

0 Response to "Pemecah Gelombang (Breakwater) Apung Meminimalisir Reklamasi"

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar berupa saran, kritik, atau pertanyaan seputar topik pembahasan. Hanya komentar dengan Identitas yang jelas yang akan ditampilkan, Komentar Anonim, Unknown, Profil Error tidak akan di approved

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel