Teknik Low Impact Development Untuk Pengendalian Aliran Permukaan

Daerah perkotaan memiliki daya tarik yang tinggi sehingga menyebabkan penduduk dari desa pindah ke daerah perkotaan. Kondisi perkotaan yang sudah padat menjadi semakin padat dan mengakibatkan jumlah permukiman menjadi bertambah.

Perubahan tata guna lahan yang awalnya daerah resapan menjadi lahan permukiman. Perubahan tata guna lahan yang tidak teratur dan tidak terencana dengan baik memberikan andil besar terhadap kenaikan dan debit sungai sebagai saluran drainase alami.

Kawasan yang masih natural dan belum dibangun menghasilkan aliran permukaan berkisar antara 10 – 20% dari total air hujan. Apabila kawasan tersebut dibangun akan memberikan dampak kenaikan aliran permukaan sampai 50% dari total air hujan.

Perubahan karakteristik aliran permukan suatu Daerah Aliran Sungai akan meningkatkan volume dan laju aliran permukaan yang akan mengakibatkan banjir, peningkatan erosi, pengurangan pengisian air bawah tanah, dan berperan dalam menurunkan kualitas air permukaan dan merusak sisem hidrologi.

Pengendalian aliran permukaan sebagai akibat terjadinya pembangunan dilakukan dengan perencanaan pembangunan yang lebih memperhatikan kondisi hidrologis daerah pembangunan. Fungsi hidrologi seperti storage, infiltrasi dan pengisian air tanah atau juga volume dan frekuensi dari debit aliran permukaan dipelihara dengan cara penanganan aliran air hujan dalam skala kecil yang menyeluruh dan terintegrasi baik itu area retensi dan detensi, pengurangan permukaan kedap air dan memperpanjang waktu konsentrasi.

Pengelolaan air hujan secara lokal yang ramah lingkungan dibutuhkan untuk mengurangi limpasan air hujan dipermukaan. Konsep pengelolaan air hujan dengan teknik ini disebut teknik Low Impact Development (LID) dimana pengelolaan air hujan dengan skala mikro yang dilakukan dilokasi atau di sekitar daerah tangkapan air hujan.

LID dikembangkan untuk mempertahankan kondisi lingkungan dari dampak negative yang terjadi akibat perkembangan ekonnomi dan keterbatasan praktek pengelolaan air hujan konvensional.

Teknologi LID saat ini dimanfaatkan untuk mengontrol polusi air limpasan permukaan, mengurangi volumenya, memperpanjang pengaliran, dan menyelesaikan masalah – masalah yang berkaitan dengan ekologi.

Prinsip Sistim Drainase Lokal/LID

LID memanfaatkan praktek pengelolaan air hujan yang terintegrasi antara sistim drainase local, skala kecil, dan pengendalian sumber daya air regional. Praktek pengelolaan air hujan yang terintegrasi ini tidak hanya tergantung pada jaringan saluran drainase dan bangunan pengontrolnya, tetapi juga memanfaatkan gedung – gedung, infastruktur drainase dan penataan lahannya dalam usaha menahan aliran air hujan ke daerah hilir.

Untuk mempertahankan kondisi hidrologi dari wilayah yang dikembangkan seperti kondisi awal, teknologi pengelolaan air hujan memfokuskan pada beberapa elemen utama hidrologi.

Elemen utama yang harus diperhatikan adalah meminimumkan limpasan permukaan dengan mengurangi perubahan lahan menjadi lahan kedap air. Selain itu perlu pula memperbanyak tumbuh – tumbuhan penutup tanah seperti lahan yang tertutup tanah rumput dan tanam – tanaman.

Macam Dari Teknologi Low Impact Development (LID)

Ada berbagai macam usaha pengelolaan air hujan yang dapat dikategorikan kedalam teknik LID, karena teknik tersebut meminimumkan peningkatan aliran air limpasan, meningkatkan infiltrasi, filtrasi dan evaporasi serta menampung sementara air hujan.

Teknik bioretensi, saluran rumput serta perkerasan agar aliran melambat dan memperbesar infiltrasi. Teknik tersebut merupakan teknologi LID yang sangat sering dimanfaatkan untuk mengelola air hujan wilayah yang dikembangkan untuk mempertahankan daya dukung, daya tampung lingkungan hidup dan merupakan usaha untuk mempertahankan ruang terbuka.

Bioretensi

Sistem bioretensi yang dibangun dapat menjadi bagian ruang terbuka hijau dan dirancang berdasarkan jenis tanahnya, kondisi lokasinya, dan tata ruang rencana wilayah pengembangan. Bioretensi mengintegrasikan fungsi pengurangan polusi dan tampungan aliran permukaan akibat dari penyaringan/pembersihan sampah dan sedimentasi.

Konsep bioretensi pertama kali dikembangkan oleh Prince George’s Country, Maryland, Department of Enviromental Resources pada awal 1990. Metode yang digunakan merupakan kombinasi dari filtrasi dengan proses fisik dan penyerapan dengan proses biologis.
Bioretensi menggunakan desain yang simple terintegrasi dengan kawasan, desain berdasarkan kondisi natural yang memberikan kesempatan untuk infiltrasi, filtrasi, tampungan dan evapotranspirasi oleh vegetasi.

Bioretensi menangkap aliran air hujan untuk difilter oleh media tanah yang telah disiapkan. Ketika kapasitas rongga pori dari media tanah dicapai, aliran air hujan mulai menggenang di permukaan tanah tempat penanaman tumbuhan.

Apabila menggunakan rekomendasi dengan underdrain, genangan akan habis untuk waktu kurang dari setengah jam, tetapi akan lebih lama apabila pembuangan air hanya dengan infiltrasi.

Cara pembuatan taman bioretensi

Kedalaman bioretensi di desain antara 4 inch – 8 inch (0,1016 m – 0,2032 m), hindari kedalaman melebihi 8 inchi karena akan Nampak seperti lubang dan menahan lebih banyak air. Apabila kondisi tanah setempat berupa lempung/ tanah liat atau memiliki laju perlokasi lambat maka diperlukan tambahan galian tanah dan perubahan/rekayasa tanah, dengan ketentuan sebagai berikut:
  1. Gali sedalam 1,5-2 kaki dari lubang asli (4 inc-8 inc + 1,5-2 kaki),
  2. Pada lapisan bawah galian, tambahkan kerikil setebal 3-6 inch untuk membantu infiltrasi bawah permukaan,
  3. Tutup galian dengan media tanam yang terdiri dari campuran pasir 50-60%, lapisan atas tanah 20-30%, dan kompos idealnya 20-30%, komosisi tanah liat harus kurang dari 10%. Pada umumnya campuran pasir 30%, kompos 30%, dan 30% material tanah eksisting akan memberikan pertumbuhan tanaman yang baik dan drainase yang memadai. Fungsi dari komposisi tersebut untuk membuat tanah lebih berpori dan lebih subur bagi tanaman.
Proses utama yang ada pada bioretensi air hujan local diawali dengan proses:
- Intersepsi
Proses tertangkapnya air hujan oleh daun tanaman sebagai lapisan penutup sehingga memperlambat atau mengurangi terjadinya aliran permukaan.
- Infiltrasi
Proses kedua adalah infiltrasi. Ini adalah proses utama yang ada di bioretensi, baik yang mempunyai saluran underdrain maupun yang tidak. Pengendapan akan terjadi akibat aliran lambat yang ada di bioretensi.
- Evapotranspirasi
Proses ini adalah proses perubahan sebagian air limpasan menjadi uap air.
- Absorpsi
Proses penyerapan kandungan kimia seperti  metal dan nitrat yang terlarut di air oleh humus dan tanah.

Sumur Kering (dry well)

Sumur kering adalah galan pada tanah yang diisi dengan agregat kasar seperti kerikil atau batu untuk mengelola limpasan air hujan dari atap.
Sumur kering menyediakan fungsi infiltrasi, adsorpsi, penangkapan, penyaringan dan pengurangan bakteri. Di Indonesia konsep ini dikenal dengan nama sumur resapan.
Cara pembuatan sumur resapan/sumur kering:
- Penggalian tanah
- Pemasangan dinding sumur
- Pembuatan saluran air
- Pembuatan bak kontrol
- Pemasangan talang air
- Pembuatan saluran pelimpasan

Sabuk Hijau (Buffer/filter Strip)

Sabuk hijau merupakan area di tepi badan air (sungai, situ/waduk, danau dll) yang ditanami berbagai jenis vegetasi, berfungsi untuk menjaga kualitas limpasan sebelum masuk ke badan air penerima.

Atap Hijau (Vegetated Roof Covers/Roof Garden/Green Roof)

Atap hijau merupakan suatu konstruksi atap berlapis yang terdiri dari lapisan vegetasi, media tanam, geotekstil dan drainase. Penerpan atap hijau dapat memantu mengurangi limpasan air hujan dengan mengurangi persentase area kedap air pada kawasan perkotaan yang padat. Atap hijau/green roof dapat diterapkan pada kawasan yang kapasitas tampungan sistem darainasenya telah penuh.

Bak Tampungan Air Hujan

Bak tampungan air hujan merupakan metode penyimpanan yang murah, efektif dan mudah pemeliharaannya yang bias digunakan di daerah permukiman maupun industry. Bak tampungan air hujan beroperasi dengan menahan volume awal dari aliran air hujan, sementara pipa limpasan bekerja seagai pelimpas air setelah kapasitas penyimpanan bak tampungan terlewati.
Air hujan yang jatuh ke tempat dengan berbagai jenis tipe material bisa langsung dimasukan kedalam bak tampungan. Pancuran atau pipa bisa digunakan sebagai pembawa air dari atap ke bak tampungan. Saringan harus dipasang diatas pancuran untuk menghindari penyumbatan oleh sampah. Outlet untuk limpasan harus disediakan untuk mempersiapkan pembuangan pada saat hujan besar.

Parit Infilltrasi

Parit infiltrasi adalah galian parit yang kemudian diisi kembali dengan batu untuk membentuk bak dibawah permukaan. Aliran air hujan dibelokan ke dalam parit dan disimpan air dapat diinfiltrasi ke dalam tanah, biasanya lebih dari beberapa hari.
Hal yang harus diperhatikan adalah menjaga parit supaya tidak tersumbat, oleh karena itu air yang masuk harus diolah dulu baik itu dengan saluran rumput atau juga dengan lahan filter vegetasi.

Paving Permeable (Porous Pavement)

Paving permeable yang mampu meloloskan air sehingga terjadi proses infiltrasi air pada lapisan tanah di bawahnya. Paving ini dapat digunakan untuk area dengan kondisi lalu lintas rendah seperti area parker dan jalur pedestrian.

Penulis, Deviana Kusuma Pratiwi, KNOWLEDGE MANAGEMENT Penerapan Teknologi Konstruksi
Daftar Pustaka
_.2007.Apalagi Solusi Banjir Kita?Yuk Kita Bikin Sendiri Tong Penangkap Air Hujan.[online] Tersedia: https://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalianbanjir/penampungan-air-hujan/.Diakses [20 Januari 2017].
Budinetro, Hermono S. Fatchan, A. karim & Sahid, M. Nur. 2012. Pengendalian Aliran Permukaan Akibat Perubahan Tata Guna Lahan Dengan Konsep Low Impact Development. Seminar Nasional Teknik Sipil UMS. 100-111. Surakarta.
Halief, K., Ningsih, R. D. P., & Nuryanto, N. (2011). Pengembangan Teknik Bioretention Dalam Mengatasi Limpasan Air Hujan. Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitektur &Sipil)
Hetwisari, Tia and darsono, suseno and Budieny, Hari (2014) Ruang Terbuka Hijau Pada Dalam Menunjang Disusun Dalam Rangka Memenuhi Salah Satu Persyaratan Kawasan Perkotaan Zero Delta Q Policy. Masters thesis, Magister Teknik Sipil.

GRATIS !!!
Dapatkan update artikel terbaru IlmuBeton.com:

Jangan lupa Konfirmasi melalui link Aktivasi yang kami kirimkan ke email Anda

0 Response to "Teknik Low Impact Development Untuk Pengendalian Aliran Permukaan"

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar berupa saran, kritik, atau pertanyaan seputar topik pembahasan. Hanya komentar dengan Identitas yang jelas yang akan ditampilkan, Komentar Anonim, Unknown, Profil Error tidak akan di approved

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel