Ribuan Sarjana Menganggur, Pendidikan Yang Buruk Atau Kreativitas Kurang ?

Setiap tahunnya berbagai jenis perguruan tinggi di Indonesia menghasilkan ratusan ribu sarjana. Mungkin termasuk anda, saudara anda atau teman anda salah satunya.  Dari Survey yang dilakukan Willis Towers Watson yang dilakukan dari tahun 2014 sampai 2016, Delapan dari sepuluh perusahaan di Indonesia kesulitan mendapatkan Sarjana yang siap pakai.

Pertumbuhan perusahaan ditanah air menunjukkan perkembangan yang sangat pesat, dalam satu dekade terkahir ada 3,98 juta perusahaan baru muncul di Indonesia. dan kini total perusahaan di indonesia mencapai 26,7 juta (BPS, Sepanjang 2017).

Andi Prayetno, salah satu dari ribuan sarjana lulusan S1 terpaksa menganggur. sepuluh bulan terkahir dirinya tidak kunjung mendapatkan pekerjaan setelah hampir setahun wisuda dengan Bahagia. Mahasiswa salah satu jurusan perguruan tinggi ternama ibukota ini sampai mengeluh, apa ada yang salah dengan dirinya ? kenapa setiap lamaran yang selalu dikirim keberbagai perusahaan tidak satupun ada yang sampai memanggil menjadi karyawan, dari hampir ratusan lamaran yang dikirim, paling jauh hanya sampai tahap wawancara. bahkan banyak yang tidak ada respon perusahaan sama sekali.

Indonesia adalah negara ketiga didunia sebagai negara dengan pertumbuhan lulusan perguruan tinggi yang sangat besar, dimana posisi pertama dan kedua adalah India dan Brasil. Namun dari banyaknya pertumbuhan lulusan perguruan tinggi tersebut, perusahaan masih kesulitan untuk mendapatkan karyawan yang berpotensi.
Jika setiap tahun muncul 398 ribu perusahaan baru dan lulusan perguruan tinggi fresh graduate sebanyak 250 ribuan orang maka tentu seharusnya tidak ada masalah untuk perusahaan mendapatkan calon karyawan yang berpotensi bagus.

Tidak terpenuhinya kebutuhan karyawan baru oleh perusahaan karena kurangnya kualitas fresh graduate untuk memenuhi standard dan kriteria yang dibutuhkan berbagai perusahaan.

Lantas dimana asal mula terjadinya masalah banyaknya sarjana pengangguran tersebut?

Ada banyak berbagai prediksi dari beberapa ahli yang menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan tenaga kerja baru perusahaan dan banyaknya sarjana yang menganggur.

Salah satunya diduga terjadi karena kebijakan pemerintah Indonesia yang tidak memiliki kontrol yang ketat terhadap izin perguruan tinggi yang baru, Setidaknya menurut Aptisi ( Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia). 2017 ada lebih dari 4000 perguruan tinggi di Indonesia dimana dari jumlah tersebut sekitar 97 % adalah perguruan tinggi swasta. Aptisi menyebutkan pemerintah terlalu gampang memberikan ijin pendirian perguruan tinggi, yang diiringi dengan buruknya peningkatan kualitas pendidikan.

Aptisi mendesak pemerintah untuk segera melaksanakan moratorium pendirian perguruan tinggi untuk mengontrol kualitas. tetapi yang ada Kemenristekdikti malah mempersingkat ijin pendirian perguruan tinggi menjadi 3 bulan.

Begitu mudah dan cepatnya membuat perguruan tinggi, bangunan ruko 4 lantai, bisa dengan mudah diubah menjadi perguruan tinggi.

Penyebab lain juga karena kesenjangan perkembangan perguruan tinggi antara pulau Jawa dan luar Jawa. Persebaran perguruan tinggi terfokus di pulau Jawa.

Mengenai kualitas yang tidak tercapai, maka akan mempengaruhi kebutuhan tenaga kerja perusahaan. Walaupun banyak sarjana tapi belum tentu dari sekian banyak tersebut dapat memenuhi tenaga kerja perusahaan. hal tersebut terjadi karena tidak terpenuhinya kualitas yang diinginkan perusahaan.

Salah satu staff HRD sebuah perusahaan konsultan, Silvy Lestari Rivan,  mengatakan Generasi millenial harus memiliki kreativitas dan keragaman pengetahuan yang tidak dimiliki generasi sebelumnya. Selain itu sarjana juga harus punya pengalaman yang mumpuni sebelum terjun langsung ke dunia lapangan kerja.

Sarjana yang mencari kerja tidak sedikit yang sudah merasa pas dan cocok dalam sebuah posisi di perusahaan, tapi tidak sedikit yang menuntut gaji yang terlalu tinggi yang tidak diimbangi dengan pengalaman kerja yang matang. Kebanggan mereka terhadap gelar yang dimiliki tidak di imbangi dengan kreativitas dan pengalaman.

Lestari menyebutkan salah satu kunci sukses dalam mencari posisi pekerjaan dalam sebuah perusahaan adalah pengalaman kerja. Soal IPK adalah nomor sekian yang diperhitungkan dari sekian kompetensi yang diharapkan. Selain itu yang tidak kalah penting adalah keahlian dan kepribadian.


GRATIS !!!
Dapatkan update artikel terbaru IlmuBeton.com:

Jangan lupa Konfirmasi melalui link Aktivasi yang kami kirimkan ke email Anda

0 Response to "Ribuan Sarjana Menganggur, Pendidikan Yang Buruk Atau Kreativitas Kurang ?"

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar berupa saran, kritik, atau pertanyaan seputar topik pembahasan. Hanya komentar dengan Identitas yang jelas yang akan ditampilkan, Komentar Anonim, Unknown, Profil Error tidak akan di approved

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel