About

TOL BECAK AYU AMBRUK, SALAH PERHITUNGAN BEBAN ANGIN, BEBAN APA SAJA YANG DITERIMA BANGUNAN?

Proyek Tol Becakayu yang dikerjakan PT Waskita Karya (Persero) mengalami kecelakaan kerja. Kepala tiang atau pierhead pada proyek itu merosot.
Direktur Operasi II Waskita Karya Nyoman Wirya Adnyana mengakui adanya kelalaian dan kurangnya kehati-hatian dalam proses pengerjaan proyek tersebut. Dia mengaku pihaknya salah dalam memperhitungkan kecepatan angin.
          source: detik.com

Setiap bangunan memikul beban-beban yang ada pada “dirinya”. Seluruh beban tersebut harus disalurkan ke dalam tanah melalui pondasi. Artinya daya dukung tanah (kemampuan mendukung/satuan luas) harus mampun merespon beban-beban dari atasnya (jumlah beban/satuan luas). Apa akibatnya bila jumlah beban bangunan lebih besar dibandingkan kemampuan tanah mendukungnya?

Ya….seperti Anda berdiri di tanah keras tidak akan amblas dibandingkan Anda berdiri di tanah lempung. Kenapa demikian? karena tanah lempung memiliki daya dukung lebih kecil dibandingkan dengan tanah keras. Artinya kemampuan setiap cm2 tanah lempung hanya mampu menahan beban diatasnya lebih kecil dibandingkan kemampuan setiap cm2 tanah keras.

Beban bangunan dapat disebar pada permukaan pondasi yang lebih lebar, artinya setiap cm2 beban yang harus disalurkan dapat lebih kecil karena dibagikan pada luas permukaan pondasi yang lebih luas.

Contohnya begini….beban bangunan sebesar 1000 kg dipikul oleh luas pondasi 10 cm2, maka setiap cm2 memikul beban 1000kg/10cm2 = 100kg/cm2, artinya setiap cm2 beban yang disalurkan oleh permukaan pondasi sebesar 100kg. Tetapi setelah Anda memperlebar permukaan pondasi menjadi 20 cm2 maka setiap cm2 permukaan pondasi ini menyalurkan beban seberat 1000kg/20cm2 = 50 kg/cm2.

Beban yang bekerja pada bangunan yaitu:
1. Beban Hidup
2. Beban Mati
3. Beban Angin
4. Beban Gempa
5. Beban Khusus



Beban Hidup

Menurut Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung (PPIUG) 1983, pada Bab I, pasal 1 ayat 2; beban hidup adalah semua beban yang terjadi akibat penghunian atau penggunaan suatu gedung dan kedalamnya termasuk beban-beban pada lantai yang berasal dari barang-barang yang dapat berpindah, mesin-mesin serta peralatan yang tidak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari gedung dan dapat diganti selama masa hidup dari gedung itu, sehingga mengakibatkan perubahan dalam pembebanan lantai dan atap ke dalam beban hidup dapat termasuk beban yang berasal dari air hujan, baik akibat genangan maupun akibat tekanan jatuh (energi kinetik) butiran air.

Sesuai dengan peraturan pembebanan gedung 1983:
Flat, hotel, rumah sakit, asrama pendidikan, gedung perdagangan beban: 0,25t/m2
Pertemuan umum, lantai ruang olah raga, gudang, gedung arsip, industry, garasi : 0,4t/m2
Tangga, bordes, gang untuk point 1: 0,3t/m2
Tangga, bordes, gang untuk point 2: 0,5t/m2
Lantai gedung parkir bertingkat (tingkat paling bawah): 0,8t/m2
Lantai gedung parkir bertingkat (tingkat lainnya): 0,4t/m2

Beban Mati

Sesuai dengan Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung (PPIUG) 1983, pada Bab I, pasal 1 ayat 1 mengatakan beban mati adalah berat dari semua bagian dari suatu gedung yang bersifat tetap termasuk segala unsur tambahan, penyelesaian-penyelesaian, mesin-mesin, serta peralatan tetap yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari gedung itu.

Beban mati  tetap berada di gedung dan tidak berubah ubah, sesuai dengan sistem struktur dan material yang digunakan. Seperti contoh sistem struktur portal bertingkat dengan inti struktural akan memiliki satuan volume struktur beton bertulang  lebih kecil dibandingkan menggunakan sistem struktur tube in tube. Begitu juga dengan penggunaan material struktur beton lebih kecil satuan beratnya dibandingkan satuan berat baja struktur.
Satuan volume struktur beton tulang bangunan tinggi:
Portal bertingkat tanpa inti struktural     0,3 m3/m2
Portal bertingkat dengan inti struktural 0.35 m3/m2
Struktur tube in tube                                 0,4 m3/m2
satuan berat struktur
satuan berat baja struktur                      7,85ton/m3
satuan berat struktur beton                    2,4 ton/m3

Beban Angin
PPIUG 1983, Bab I pasal1 ayat 3: beban angin adalah semua beban yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang disebabkan oleh selisih dalam tekanan udara.


Tekanan angin di Indonesia adalah 80kg/m2 pada bidang tegak sampai setinggi 20 m. Beban angin yang bekerja terhadap gedung adalah menekan dan menghisap gedung tidak menentu dan sukar diprediksi. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya tekan dan hisap angin terhadap gedung adalah kecepatan angin, kepadatan udara, permukaan bidang, dan bentuk dari gedung.

Beban Gempa
Beban Gempa adalah beban yang disebabkan oleh bergeraknya tanah akibat proses alami.
Untuk bangunan tinggi beban gempa harus diterapkan sedemikian rupa sehingga bangunan harus mampu menahan gempa ulang 50 tahun.


Pada Desain Gempa inilah nilai daktilitas  struktur (R) suatu bangunan dapat ditentukan. Faktor daktilitas maksimum (µm), faktor reduksi gempa maksimum (Rm), dan faktor tahanan lebih struktur (f) dan tahanan lebih total beberapa jenis system dan subsistem struktur gedung sebagai berikut:
System struktur rangka dengan uraian system pemikul beban gempa menggunakan dinding geser beton bertulang,
faktor daktilitas maksimum(µm)                           3,3
faktor reduksi gempa maksimum (Rm)                5,5
faktor tahanan lebih struktur (f)                           2,8
Beban gempa  adalah beban statik ekuivalen yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang menirukan pengaruh dari gerakan tanah akibat gempa itu. Dalam hal pengaruh gempa pada struktur ditentukan berdasarkan suatu analisa dinamik, maka yang diartikan dengan beban gempa di sini adalah gaya-gaya di dalam struktur tersebut, yang terjadi oleh gerakan tanah akibat gempa itu. (PPUIG 1983, Bab I pasal 1 ayat 4).

Beban Khusus
Beban khusus adalah beban yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang terjadi akibat dari selisih suhu, pengangkatan dan pemasangan, penurunan fondasi, susut, dan gaya-gaya tambahan yang berasal dari beban hidup seperti gaya rem yang berasal dari keran, gaya sentrifugal, dan gaya dinamis yang berasal dari mesin-mesin dan pengaruh-pengaruh  khusus lainnya.

Article by :  Rita Laksmitasari

GRATIS !!!
Dapatkan update artikel terbaru IlmuBeton.com:

Jangan lupa Konfirmasi melalui link Aktivasi yang kami kirimkan ke email Anda

0 Response to "TOL BECAK AYU AMBRUK, SALAH PERHITUNGAN BEBAN ANGIN, BEBAN APA SAJA YANG DITERIMA BANGUNAN?"

Post a Comment

Silahkan tinggalkan pesan jika Anda punya saran, kritik, atau pertanyaan seputar topik pembahasan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel